Tambakrejo, Sentra Kuliner Baru Bandeng Muda Urug

Dengan cinta siap menembak. Jangan lupa pelurunya dari jamban se-Kota Semarang. (foto: gambangsemarang.com / koesnan hoesie)

Jika tak ada aral melintang dan berhasil viral, Semarang mungkin akan memiliki kuliner baru. Ini jelas akan membuktikan bahwa Wali Kota Semarang sangat peduli dengan kreativitas pelaku kuliner.

Selama ini kota yang produktif melahirkan menu-menu baru adalah Bandung. Nyaris setiap bulan ada saja menu baru. Mulai Cilok, cilok digoreng (cireng), bahkan krupuk mentah yang diolah sebagaimana mie godhog yang kemudian bernama seblak.

Belum lagi tahu bulat. Semua melalui kajian ilmiah yang sangat canggih. Bahkan sampai ada hukum thermodinamika yang bisa menjelaskan mengapa tahu bulat harus digoreng dadakan.

Begini, penjelasan ilmiah yang ditulis Irvan Kartawiria berdasar hukum thermodinamika.

Tahu bulat digoreng dadakan itu urusannya sama termodinamika. Diagram fase air, suhu, dan tekanan. Pada proses penggorengan, tahu bulat dicelup ke minyak dengan suhu 150-160 C.

Pada suhu ini, air pada tahu akan berubah fase dengan cepat. Akibat ekspansi ke segala arah, ukuran tahu bulat bertambah searah diameter dan permukaannya merata menjadi bulat sempurna. Reaksi maillard di permukaan tahu bulat membuat warnanya jadi coklat, dan membentuk struktur crust yang secara fisik cukup kokoh.

Tapi karena struktur crust ini berpori, maka tekanan uap dari dalam tahu bisa keluar. Akibatnya tekanan akan berkurang setelah tahu diangkat. Maka, tahu bulat harus digoreng dalam jangka waktu sedekat mungkin dengan saat penyerahan produk ke konsumen.

Menarik bukan?

Nah, lalu apa kuliner baru Semarang ini?

Sebelumnya Semarang sudah sangat dikenal dengan oleh-oleh bernama bandeng presto. Kemudian olahan bandeng itu dikembangkan sehingga menghasilkan bandeng cabut duri, otak-otak bandeng, dan segala macam perbandengan.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang sudah jadi selebgram rupanya masih gelisah. Maka ketika jalan-jalan di Gunungpati dan melihat teknik warga mbakar telo dengan dikubur dalam abu panas, muncul idenya.

“Eureka!” begitu kira-kira Hendi berteriak.

Tambakrejo, Sebuah Kisah Menthog, Wali Kota dan Gubernur

Tambakrejo, tanah negara yang terancam hilang karena reklamasi pantai oleh sebuah perusahaan dan coba diselamatkan warga. (foto : gambangsemarang.com)

Nama kampungnya Tambakrejo. Ia ada di pesisir Semarang dan masuk kategori daerah astaga. Nama Tambakrejo nggak akan dikenal jika tak ada proyek besar bernama Normalisasi Banjir Kanal Timur.

“Warga menolak atau piye mas?” tanya Mitshuru, kawanku diskusi malam ini.

“Nggak lah. Justru warga mendukung karena diperkirakan akan berdampak baik. Banjir diperkirakan menghilang karena tertampung,” kataku.

Panjang lebar kemudian aku jelaskan mengenai sejarah tambak-tambak bandeng dan udang sehingga diberi nama Tambakrejo. Ada pula yang ngawur membuang hasil sedot WC ke areal itu.

Aku kemudian bercerita tentang menthog. Unggas yang masih bersaudara dengan bebek dan mayoritas sayapnya berbulu putih. Unggas itu klemar-klemer. Di kalangan manusia lebih dikenal sebagai bahan masakan jenis rica-rica.

Bulu-bulu menthog yang warnanya putih itu, seringkali dicabut dan dimanfaatkan sebagai bahan pembuat shuttle cock untuk Badminton.

“Dulu waktu aku kecil, sering ada orang yang berkeliling mengumpulkan bulu-bulu menthog ini. Lalu dijual ke pabrik shuttle cock di Muntilan,” kataku.

“Apa hubungannya menthog dengan kampung Tambakrejo mas?” tanya Mitshuru.

“Mulane rungokke to Su. Kamu itu nggak sabaran kok Su. Jadi ketika shuttle cock jadi, maka dibuatlah untuk main Badminton. Tapi ngerti nggak Su, gimana nasib menthog ketika lewat di lapangan Badminton?” tanyaku.

“Piye mas?”

“Mereka diusir. Menthog itu diusir, bahkan hanya lewat saja.”

“Trus hubungannya dengan Tambak Rejo apa?”

“Warga Tambakrejo itu kan sudah merawat dan me njaga agar tanah negara tak dicaplok perusahaan raksasa yang sekarang lagi nguruk pantai sehingga bikin abrasi disana-sini. Mereka merawat tanah negara dijadikan tambak. Benih Bandeng, Udang dan mungkin ikan lain ditebar. Tempat itu menjadi jaring pengaman sosial. Warganya bisa cari nafkah dengan halal sekaligus melindungi aset negara,” kataku.

Rico Marbun dan Pilgub Jateng Yang Pating Klinyit

Rico Marbun itu top, diwawancarai wartawan lho. (foto: gambangsemarang.com /markeyak)

Lembaga survey Median dengan direktur eksekutif Rico Marbun, tak terdengar suaranya di Pilgub Jateng 2018. Entah apa sebabnya, tapi lembaga survey ini selalu berbeda dengan lembaga survey lain.

Misalnya dalam Pilgub DKI, dalam survey pertama lembaga survey Polmark menempatkan pasangan Anies-Sandi di peringkat pertama elektabilitas tertinggi. Sebaliknay, Rico Marbun malah menempatkan Anies-Sandi di peringkat kedua.

Lha dalam pilgub Jateng 2018 ini, boro-boro ada perang lembaga survey. Memang terkesan adem ayem. Dan suasana adem ayem ini jelas membingungkan menyusun strategi. Model survey ala Rico Marbun yang berani menentang arus lembaga survey nggak ada. Pokoke pating klinyit lah.

Saking nglinyitnya pilgub Jateng ini, jago strategi PDIP Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul sampai nggak percaya. Sudirman Said yang disebutnya manusia cerdas, berwawasan luas mosok pake strategi ecek-ecek? Wah, ini dia. Mungkin mas Pacul perlu konsultasi dengan Rico Marbun biar nggak nganggap ecek-ecek strategi Om Dirman.

Ingat nggak waktu Pilgub DKI? Nyaris semua terlena dengan hasil survey mainstream yang menyebut bahwa isu agama tak mempan. Nah, Rico Marbun dengan Media Survey Nasional alias Median ini, justru menyebutkan bahwa ada fenomena gerakan “asal bukan Ahok”. Kenthir to? Kenthir tapi terbukti ndhes…

Begitupun ketika menjelang coblosan, nyaris semua lembaga survey menyebutkan bahwa Pilkada DKI akan berlangsung satu putaran. Lha kok Rico Marbun berani bilang bahwa elektabilitas Ahok tertinggi, disusul Anies-Sandi, dan Agus Yudhoyono terakhir. Eh, jebul bener lagi.

Masih belum cukup? Nah, Saiful Mujani dengan SMRC menyebutkan bahwa isu etnis dan agama tak berpengaruh dalam Pilgub DKI. Sedangkan Rico Marbun sebaliknya, hasil survey-nya menunjukkan bahwa ada penguatan politik identitas. Mbuh metodologi macam apa yang dia pakai, tapi hasil survey Rico Marbun selalu berbeda dengan lembaga survey lain.

Suatu ketika saat masih jadi mahasiswa, Rico Marbun pernah bilang bahwa hidupnya harus memberi arti bagi kehidupan.

“Hidup cuma sekali kok harus berarti. Jadi kalaupun beda nggak papa. Saya nggak suka pecel, sampeyan suka pecel,” kata Rico Marbun kepada gambangsemarang.com entah berapa tahun lalu saat Rico marbun masih sangat culun.

Yang paling fenomenal, menjelang putaran kedua, duet Anies-Sandi disebutkan memenangkan kontestasi Pilgub DKI oleh Rico Marbun. Ini sangat cocok dan terbukti kan?

Kembali ke Jateng. Pilgub Jateng barangkali butuh sosok yang berani bersikap antimainstream dalam menyampaikan survey macam Rico Marbun. Gunanya jelas, biar gairah pemilih juga meningkat.

“Lha kok sampeyan pengin Pilgub Jateng ramai to?” kata mas Wawan, tetangga sebelah gambangsemarang.com.

“Lha ya jelas to. Sekarang itu banyak yang nggak tahu je kalau mau ada pemilihan gubernur. Coba kalau foto saya dicetak dan dipasang di pojok lapangan, nanti kan dikira saya nyalon.”

“Apa untungnya kalau ramai?”

“Kalau masyarakat banyak yang aktif terlibat, otomatis tingkat legitimasinya kuat to mas. Dipilih wong satus karo dipilih wong sewu ki beda.”

“Lha biar bergairah gimana?”

“Ya minum jamu kuat macam Purwoceng. Eh maksud saya, ini salah satu tugas lembaga-lembaga survey. Makanya sosok seperti Rico Marbun dan Median itu dibutuhkan. Berani beda meski sendirian dan dianggap aneh.”

“Kalau perkiraannya meleset?”

“Ya nggak papa. Kan yang dirugikan calon yang kalah. Salah sendiri nyalon.”

Pleidoi Koruptor Berbudi Luhur

Bupati Purbalingga Tasdi mengacungkan salam metal, salam khas PDIP. Entah apa maksudnya. (foto:gambangsemarang.com / tempo)
Benarlah. Setelah bupati Purbalingga tertangkap KPK, saya mendapat tugas menggali cerita yang berbeda tentang korupsi dan koruptor. Hajinguk. Tugas yang bikin aras-arasen.
Saya hubungi seorang yang pernah divonis korupsi. Ia punya perspektif berbeda tentang korupsi. Ia juga tak mau jika korupsi disederhanakan menjadi seperti maling atau perampok biasa.
“Tolong nanti ditulis apa adanya. Sebelum memulai obrolan, saya ingin menyampaikan maaf. Saya memang koruptor. Koruptor sejati yang sekoruptor-koruptornya koruptor. Makanya saya mohon maaf kepada masyarakat yang sudah merasa saya rugikan,” katanya sambil tersenyum.
Saya menyimak. Ingat nasihat mas Eko Tunas, sastrawan Semarang karib Emha Ainun Nadjib dan Ebiet G Ade, bahwa memperhatikan orang berbicara jauh lebih efektif dibanding merekam atau mencatat.
Sang Koruptor itu melanjutkan obrolannya. Baginya, korupsi adalah perpaduan ketelatenan, kelihaian, kemampuan manajerial, naluri berkuasa, dan keinginan menjadi orang berpengaruh. Jadi untuk menjadi koruptor dalam kelas paripurna, butuh proses yang tak pendek.
“Panjang prosesnya. Dan proses itu harus dilakukan pelan-pelan, kalau dalam bahasa ibadah ya seperti…. apa itu? Tuma’nina. Nggak bisa terburu-buru,” katanya.
Saat ini, para koruptor yang ditangkap, adalah koruptor-koruptor yang tak bisa menjaga martabat dan tak bisa memberi nilai sebuah proses. Mereka ingin menjadi koruptor secara instan. Salah satunya dengan menawarkan diri menjadi pemimpin.
“Itu salah. Koruptor sejati harus rendah hati. Jika tertangkap harus mengakui terus terang. Jangan kemudian menyalahkan orang lain. Tunjukkan wajah bersalah, jangan malah memberi salam yang jadi ikon partai politik. Itu menunjukkan ia mau berlindung pada induk yang sudah ia setori duit korupsi,” katanya.
Ia berpuasa, meski demikian ia menawari sebatang rokok. Juga kopi.
Koruptor, katanya, tak boleh menjadi pelarian. Ia harus bertanggung jawab secara hukum atas apa yang dilakukannya.
“Makanya saya ini tersinggung berat ketika banyak koruptor-koruptor instan saat ditangkap malah sibuk berkilah bahwa mereka tak salah. Itu bukan koruptor, itu celeng. Asu. Bajingan itu. Koruptor itu meski sering dianggap penjahat tapi warga terhormat,” katanya.
Ia juga menyebutkan bahwa proses menjadi koruptor jika tak didasari dengan niat tulus dan ikhlas, sebaiknya jangan. Sebab itu hanya akan menghancurkan nama baik koruptor.
“Koruptor tak boleh bebal. Ketika ada kawannya yang tertangkap, ia harus siap bertindak kooperatif dengan penegak hukum. Apalagi yang sedang dalam proses maju pilkada. Harus fair. Jangan korbankan diri sendiri untuk menyelamatkan partai dan misinya. Koruptor itu bukan personal, tapi kerja berjaringan,” katanya.
Saya makin mumet dengan ceritanya. Vonis beberapa tahun yang diterimanya rupanya sudah membuat ia menjadi tak sehat secara nalar.
“Pesan saya, jika mau nulis tentang koruptor, cobalah pakai perspektif saya. Perspektif bahwa korupsi itu hanya soal giliran. Perspektif bahwa masih ada korupsi yang tingkatannya njelehi, yakni mengkorupsi anggaran pemberantasan korupsi. Mengkorupsi anggaran pembahasan pemberantasan korupsi. Dan akan berpuncak pada mengkorupsi yang ia sendiri tak tahu apa yang harus dikorupsi,” pesannya.
Saya berpamitan dan bingung mau menulis apa. Redaksi sudah beberapa kali menghubungi, namun saya cueki.
“Assalamu alaikum, maaf mas, saya dari panitia pembangunan mushala anu, ingin bersilaturahmi,” sebuah suara menghentak. Bersamaan dengan itu, suara adzan ashar terdengar dari Musholla al Hidayah kampungku. Kayaknya sih suara pak Muhtar.
Oalah, kere. Ternyata aku belum ngapa-ngapain dan malah sibuk melamun di teras depan. Trus tentang pesanan tulisan redaksi, aha jangan khawatir karena itu juga bagian dari lamunan saya, agar merasa dibutuhkan kantor tempat saya bekerja.
edhie prayitno ige ~ penulis asal Muntilan, mukim di Semarang

Pemecatan Kamal Fauzi Dan Lagu Pinkan Mambo

“Jika Ingin Banyak Kenangan, Lewatlah Sebanyak Mungkin Tikungan. #mendemciu”.

Status Facebook Ganug Nugroho Adi ini tiba-tiba hadir dalam benak saya melihat kondisi PKS.

Ekspresi Kamal Fauzi, ketua DPW PKS Jateng masih sumringah. Ia masih bersemangat meneliti lembar-lembar berkas yang harus ditandatangani. Ada berkas pencalonan gubernur, ada berkas nota kesepahaman koalisi dengan Gerindra dan PAN.

“Kita manut saja to ini? Ketua kelasnya kan Gerindra,” kata Kamal kepada salah satu yang ada di ruangan itu.

Nggih ustad,” jawab yang menemani tadi entah siapa.

Tiba-tiba layar gawai sang ustad itu menampilkan pemberitahuan. Ada sebuah pesan melalui aplikasi whatsapp yang masuk. Jelas dan sangat mustahil pesan itu dari dedek gemes.

“Tad. Berkas jangan ditandatangani. Biarkan saja. Tanda tangan ustad Kamal udah nggak laku,” pesan dari nomer 0812xxx itu serta merta membuat dahi Kamal Fauuzi mengernyit.

Iki maksude opo to?” Kamal Fauzi mencari jawab.

Lho…lho…lho… ada apa?

Jawaban itu didapat justru dari kantor Komisi Pemilihan Umum Jawa Tengah ternyata didapati adanya surat yang berasal dari DPP PKS. Isi surat pada intinya adalah mencopot Kamal Fauzi dari jabatan ketua DPW PKS Jawa Tengah.

Ustad ini belum tahu ia dicopot. Tak ada surat yang ia terima. Namun surat sudah dikirim ke KPU sejak tanggal 20 Desember 2017.

“Lha kesalahan ane apa?” kira-kira demikian Kamal Fauzi bertanya ke DPP PKS.

Tak ada jawaban. Dan memang tak butuh jawaban. Pertanyaan semacam yang diajukan Kamal Fauzi memang tak butuh jawaban, kecuali hanya untuk memenuhi rasa penasaran saja.

Kabar dicopotnya Kamal Fauzi ini tentu saja kabar nyata dan bukan hoax. Meski gambaran adegan di awal tadi bisa jadi hanya dramatisasi.

Pesan moralnya, ditikung itu sakit ustad. Sakit. Namun seperti kata kawan saya tadi, jika ingin banyak kenangan, lewatlah sebanyak mungkin tikungan. Anggap saja tikung menikung menjelang pilgub jateng 2018 ini untuk memperbanyak perbendaharaan kenangan.

Mbohlah, Kesempurnaan Yang Mengagetkan

Pertunjukan Puisi Slamet Unggul. (foto : gambangsemarang.com/heroe risdianto)

“Bib Bob Bib Bob Bib Bob…”

Seketika kudukku merinding dan terbayang nonton bib bob nya bengkel teater rendra. hanya malam itu suara keluar dari vokal slamet unggul di balik layar. Secara berulang, Slamet unggul melafalkan ‘mbohlah’ sebagai pembuka pertunjukan puisinya.

Tekanan dan intonasi suara yang unggul secara teknik mampu mengantarkan imagi penonton ke dalam aksentuasi magis yang sulit terutarakan. Penonton hening, semua terpaku pada asal suara. Tak berapa lama, Agung Wibowo dengan gerak yang sangat teatrikal bergerak-gerak dengan mengibar-ngibarkan merah putih semakin menambah kekuatan pertunjukan ini dan mengantarkan situasi yang paling puitis. Dengan lembut dan pelan, penonton diajak memasuki satu labirin yang diurai Slamet Unggul lewat puisi-puisinya yang memang indah dan bernas!

Yap, seketika runtuhlah anggapanku tentang Slamet Unggul bahwa tak akan ada yang bisa didapat dari pementasan pertunjukan puisi tersebut. Dengan kemampuan artistik yang sangat piawai, Slamet Unggul telah berani melakukan terobosan-terobosan dalam seni panggung yang jarang dilakukan oleh para seniman kita (untuk dibilang tidak ada).

Salah satu yang patut diacungi jempol adalah keberanian Slamet Unggul memasukkan unsur musik digital sebagai ilustrasi yang lazim diputar pada festival dance serta silhuet yang transparan. ini adalah keindahan yang tak terduga. Mengejutkan.

Sebenarnya puisi-puisi slamet unggul cukup sederhana. tetapi, dalam kesederhanaan itu, Slamet Unggul mampu mengakomodir berbagai persoalan baik yang subyektif maupun obyektif seperti persoalan sosial yang kini lagi marak. Dalam hal ini Slamet Unggul cukup berhasil dan nampaknya ‘tinggi artistik’ bukan persoalan berat baginya.

Kuliah? Jangan Buru-buru Lulus

Kuliah gak butuh buku ndes.

Bagi maba atau mahasiswa bangkotan baru yang masih cupu dan rajin-rajinnya, lulus kuliah cepat adalah suatu perkara yang diidam-idamkan.Cocote. Justru mahasiswa bangkotan, Ndes, yang pengen cepet lulus.

Bahkan sebagian dari mereka ada yang menuliskan target kelulusannya di plafon kamar agar saat mereka tiduran bisa melihat tulisan itu. “LULUS 2019, AMIIIEEN”. Konon, dengan melihat tulisan target yang hendak dicapai seperti itu dapat memantik semangat. Woow, emeejing!

Tapi, ada beberapa hal yang harus kamu tahu bahwa lulus kuliah cepat bukanlah sebuah prioritas. Ini adalah beberapa alasan mengapa kamu tidak disarankan untuk buru-buru lulus kuliah.

Satu. Tidak mendapat jatah uang jajan dari orang tua

Ketika seseorang masih berstatus mahasiswa tentu mereka masih mendapat jatah kiriman uang jajan dari orang tua. Meski tidak seberapa jumlahnya yang namanya orang tua ki gak tegel bi anake. Tapi berbeda hal ketika sudah lulus kuliah. orang tua menganggap bahwa sudah saatnya untuk bekerja dan mencari uang jajan sendiri.

Dua. Menambah jumlah pengangguran

“Selamat. Anda dinyatakan lulus”. Ketika usai sidang dan seseorang dinyatakan lulus, maka saat itu lah seseorang resmi menjadi pengangguran (kecuali mereka yang sudah memiliki pekerjaan sebelumnya). Itu baru satu orang. Lha kalau dalam satu semester saja satu universitas meluluskan lima ratus orang, berapa ribu pengangguran yang dihasilkan seluruh kampus di Indonesia? Mbuh. Itung dewe!

Tiga. Tidak Percaya Diri

“Kamu sudah lulus ya?”

“Sudah dong”.

“Sekarang kerja di mana?”

“Emmm..”

Justru ketika lulus tapi nganggur akan jadi nggak pede. Saat lebaran kumpul keluarga besar ditanya sudah kerja belum, saat main ke rumah si Doi ditanya camer sudah kerja belum. Tiwas bawa martabak, bawa kue cubit, tetep aja ditanya. Cemet tenan. Piye jal perasaanmu?

Empat. Berpotensi stres

Ini nih yang paling berbahaya. Kok iso? Yo iso to yo. Sudah tidak dapat uang saku dari orang tua, pengangguran juga tentu sangat berpotensi untuk stres. Belum lagi si Doi yang sudah kebelet ngajak kawin. Stres to mikir modal kawin.

Setelah membaca empat alasan di atas apakah masih tertarik untuk lulus kuliah segera? Sebagian orang menempatkan bahwa lulus kuliah segera adalah sebuah prioritas. Apalagi bagi mereka yang dari keluarga kere, yang untuk beli mie instan aja harus nabung. Tentu mereka tidak ingin menghabiskan banyak uang untuk biaya kuliah. Berat, Ndes. Namun yang perlu digaris bawahi adalah berkarya.

Zahit Arofat ~ Sastra Undip sudah selesai sidang skripsi.

Klarifikasi Presiden PKS tentang Ketua DPW PKS Jateng

Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman di mobil ambulans menemani warga. (foto:gambangsemarang.com/suarajakarta.co)

Postingan pertama tentang ketua DPW PKS Jateng Kamal Fauzi yang dicopot dari jabatan ketua tanpa melalui mekanisme yang semestinya, menuai reaksi. Sebuah mobil Toyota Previa warna putih tiba-tiba parkir di halaman kantor.

Dua orang turun dari dalam mobil. Badannya tak terlalu gemuk, namun ia sangat berwibawa. Kacamata dan senyum menjadi sebuah komposisi seru yang membius. Berwibawa. Ya, sangat berwibawa.

“Assalamu Alaikum,” sebuah salam menerpa telinga.

“Wa alaikum salam,” security kantor menjawab.

“Mau minta tolong, bisa dibantu ketemu redaktur atau malah bos kantor ini mas?”

“Siap. Mohon maaf dari siapa ya?”

“Sampaikan saja, saya doktor Mohamad Sohibul Iman. Saya presiden PKS,” kata pria yang sangat berwibawa ini dengan aksen Sunda.

“Siap. Oh, ada negara baru bernama PKS ya kok presiden. Wah bapak sebagai presiden kurang mboys pak. Presiden itu harusnya dikawal Pampers, maksud saya Paspampres.”

“Sampaikan saja. Segera.”

“Sss…..si…si…siap Pak!” kali ini security mengambil sikap sempurna.

Sungguh ketegasan suara yang menggelegar itu telah meruntuhkan sikap egaliter si security. Egaliter memang menjadi sebuah syarat untuk bekerja di kantor kami.

Bukannya melapor ke boss, security itu malah lari ke dapur. Ia menyeduh kopi sachetan. Tangan kanan mengaduk kopi, tangan kiri memegang hape, matanya menatap layar. Si security itu coba stalking mantan tamunya.

Eureka…ketemu,” teriaknya bergaya filsuf menemukan sesuatu.

Yap. Mohamad Sohibul Iman adalah makhluk tertinggi dalam organisasi bernama Partai Keadilan Sejahtera. Ia lahir pas hari TNI, 5 Oktober 1965. Eh tahun 1965? Yap…tapi tahun bersejarah nan seru itu ia baru lahir lho. Lagipula kan tanggal 5 Oktober, harinya tentara. Jangan berpikiran macam-macam.

Kemampuan stalking security kantor memang luar biasa. Ia mencatat pula nama Uswindraningsih Titus sebagai istrinya. Lha ikut dan menunggu di dalam mobil kok. Dengan AC dimatikan pula.

Dari sisi pendidikan, Sohibul ini jelas sangat berpendidikan. Ia kuliah di Takushoku University, kemudian di Universitas Waseda, Japan Advanced Institute of Science and Technology. Serba wow dan serba uhuy pokoknya.

Security kantor merenung. Ia sebenarnya ingin mengajak istrinya jalan-jalan ke Kampung Pelangi. Namun apa daya kantongnya kosong. Sedangkan tamunya ini, bukan hanya pernah ke Kampung Pelangi, namun juga ke Jepang. Tak hanya jalan-jalan, tapi sekolah coy…sekolah.

Suara tokek menyadarkan lamunan security itu. Ia kemudian ke lobi kantor, menemui tamunya.

“Maaf yang terhormat bapak Presiden. Ada keperluan apa mau bertemu boss kami? Saya harus taat aturan seperti bapak. Seperti lembaga yang bapak pimpin yang selalu taat aturan, jadi harus ada sedikit interogasi kecil ini,” kata security dengan kesantunan kucing yang lapar dan menggesek kaki juragannya.

“Kalau beliau sibuk, sampaikan saja, kami mau klarifikasi tentang tulisan kemarin. Ketua DPW PKS Jateng itu tidak dicopot, diganti apalagi dipecat. Seperti katamu tadi, di PKS itu untuk mencopot atau mengganti ketua, ada mekanismenya. Kami mengenal Pemilihan raya atau Pemira. Itu yang memilih Majelis Syuro dan mengajukan nama-nama yang akan dicalonkan. Tolong sampaikan boss antum eh sampeyan. Klarifikasi ini harus ditulis dan dimuat.”

“Sebentar bapak Presiden yang terhormat. Mohon diulangi saya akan rekam dan nanti rekaman itu akan saya sampaikan mas-mas boss dan dedek-dedek gemes di redaksi.”

Maka Presiden PKS itu kemudian memberikan statemen seperti yang sudah disampaikan kepada security tadi. Aksen sundanya hilang, ia sangat Indonesia. Ketegasan suaranya seperti ketegasan seekor kucing lapar terhadap ikan asin.

“Kalau kami melanggar AD/ART dan mencopot Kamal Fauzi tanpa mekanisme Pemira, kami bisa kalah kalau di PTUN. Jadi sekali lagi kami tegaskan. Bukan dicopot atau diganti, namun Kamal Fauzi diberi tugas lain yang lebih besar karena partai sangat membutuhkan tenaganya. Adapun posisi sebagai ketua sekarang dijabat Abdul Fikri Faqih. Ia bukan menggantikan Kamal Fauzi, namun itu tugas baru dia. Wassalamu alaikum.”

Rekaman dimatikan. Sohibul berjalan gagah menuju mobilnya. Dan yang membuat security kantor terbelalak, ternyata ia nyetir sendiri.

Belum sampai terdengar suara Toyota Previa itu distarter, tiba-tiba tercium bau aneh. Kayak tai cicak.

Hajinguk….cecak ngising sembarangan. Pas irung sisan. Gak ngenak-enaki wong turu,” saya misuh-misuh.

Ternyata kebanyakan keinginan dan cita-cita dalam diri saya menyebabkan tidur siangpun bermimpi. Trus kemana sohib bernama Sohibul Iman tadi? Ya embuh, wong namanya saja cuma mimpi kok. Tapi dalam mimpi ini saya mendapat moral cerita dari pak Presiden, yakni taat aturan dan kerendahan hati sehingga mau berkunjung ke kantor yang belum dibangun itu.

Kisah Wanita Anggur Merah

ilustrasi (gambangsemarang.com)
Gawaiku bergetar. Layarnya berkedip. Sebuah pesan whatsap masuk. Ku lihat sesaat. Dari Yeni. Aku tersenyum. Ku rasa ia juga sedang tersenyum di sana. Atau hanya imajinasiku yang merangkai senyumnya lebar di mataku.  Entahlah. Aku merindukanmu saat ini.
Ku ambil sebutir anggur merah. Ku pandang lamat-lamat. Aku teringat seseorang: perempuan yang membuatku merasakan manisnya anggur merah untuk pertama kali, wanita yang mengobati rasa penasaran dan takjub anak kecil terhadap (kata) anggur merah. Ya, hanya sebatas buah anggur.
Derik tonggeret dan jangkrik bersahut-sahutan di luar.  Desis angin malam bersiul melewati celah-celah bambu. Dan, gawaiku bergetar. Layarnya berkedip. Sebutir anggur merah terjatuh dari tanganku.
Mentari masih belia mengintip. Ku kayuh ‘untaku’ yang pedalnya hanya sebelah menuju sekolah di dusun sebelah. Saat melewati rumah terakhir di penghujung dusun, terdengar suara perempuan memanggilku. Aku sontak menginjak rem karet dari sandal bekas yang terpancang di atas ban depan.
Dari dalam rumah tersebut keluar seorang perempuan paruh baya. Dia berjalan ke arahku. Tangan kanannya menggenggam sesuatu.
“Nang, ini aku ada anggur untukmu”.
Perempuan itu menyodorkan dua buah anggur merah kepadaku. Aku sangat senang sekali saat menerima pemberiannya, saat melihat dan menyentuh pertama kali anggur merah.
“Terima kasih, Lik”, sembari memasukkan dua buah anggur merah ke saku seragam pramuka.
“Hati-hati ya, Nang! Sekolah dan belajar yang rajin biar pintar. Berbaktilah kepada orang tua!”
Ku cium punggung telapak tangannya. Kembali ku kayuh sepedaku ke sekolah. Semakin cepat. Tak sabar.
“Akan ku tunjukkan ke teman sebangkuku nanti” pikirku. “Bukankah ia sudah sering makan buah anggur merah? Bukankah di dalam lemari kulkasnya selalu tersedia setiap hari? Ah biarlah”, aku menggerutu dalam hati.
Sesampainya di kelas ku keluarkan dan ku baui dua anggur merah yang aduhai menggoda. Segera ku tunjukkan kepada Danar, kawan sebangkuku.
“Dan, aku punya dua butir anggur merah. Tapi aku tidak akan membaginya sebutir untukmu”, kataku kepada Danar, sembari menunjukkan dua buah anggur tepat di depan mukanya.
“Ah, Cuma dua butir. Aku di rumah punya banyak. Bahkan hampir setiap hari buah itu tersedia di dalam kulkas. Weeee…”, Danar mengejekku.
“Tapi ini beda”, tukasku.
“Beda? Apanya yang beda? Memangnya kamu sudah pernah makan sebelumnya sehingga kamu bisa bilang beda?”
“Pokoknya beda”, jawabku sedikit kesal.
Kembali ku amati lamat-lamat. Ah, ku rasa aku tak ingin buru-buru. Merah bulatnya memaksaku untuk kembali menyimpannya. Ku masukkannya ke dalam kantong.
Sepulang sekolah – di pertigaan dekat mushola dusunku, tiga tetanggaku mencegat: Lik Parmin, Lik Khasan, dan Lik Syarib. Wajah mereka terlihat serius.
“Kamu tadi pagi diapakan Si Begenggek?” tanya Lik Khasan.
“Iya. Tadi pagi aku melihat kamu sedang berdua sama lonte itu. Kamu dikasih apa, hee…?” sambung Lik Parmin.
Dengan perasaan sedikit takut aku mencoba menjawab pertanyaan mereka.
“Dia memberiku dua buah anggur merah. Hanya itu, Lik”, jawabku.
“Hee.., kamu makan anggur hasil dari kelakuan dosanya?” tambah Lik Syarib.
Aku hanya diam – menunduk. Terlebih sebab aku tidak mengerti apa yang mereka katakan: tentang begenggek, lonte, dan perbuatan dosa. Yang aku tahu bahwa perempuan itu janda beranak satu. Dia sering memberiku uang saku dua ratus rupiah saat aku melintas depan rumahnya ke sekolah – bahwa dia yang membuat aku dapat merasakan nikmatnya anggur merah, dan bahwa dia perempuan yang baik.
“Dusun kita ini terkenal dengan orang-orangnya yang alim, pintar mengaji, dan pintar ilmu. Namun, wanita itu..”
“Kenapa dengan Lik Mun?” aku mencoba bertanya.
“Sudahlah. Kamu lebih baik pulang. Dan, jangan pernah lagi berurusan dengan begenggek itu”, imbuhnya.
“Tapi kenapa? Dia baik kepadaku. Kalau kalian merasa lebih baik darinya, kenapa kalian tidak memberiku uang saku seperti yang dilakukannya? Bukankah kata Pak Zen, guru ngaji di dusun pernah berkata bahwa orang baik adalah orang yang tidak pernah menggap dirinya baik serta tidak pernah menganggap orang lain buruk?” batinku dalam hati.
Kembali ku kayuh sepedaku, ingin segera pulang. Aku tak ingin berlama-lama melihat wajah merah-padam mereka, berlama-lama mendengar umpatan mereka tentang Lik Mun, dan, aku tak ingin berlama-lama menyimpan anggur merah di sakuku. Ingin segera ku menyentuhnya.
Segera ku sandarkan ‘untaku’ di cagak (tiang rumah) teras rumah. Bergegas masuk kamar. Ku lempar tas di balai bambu. Aku duduk, napasku tersengal. Ku gapai dua butir anggur dari dalam saku. Kupandangi lamat-lamat.
“Rasanya aku tidak ingin segera melahapmu. Tapi aku penasaran”, gumamku.
Rasa penasaran itu semakin mendesak, menggerakkan tanganku, menuntunnya memasukkan sebutir anggur merah ke dalam mulut. Ku kulum sebentar, ku kunyah perlahan. Satu-dua kunyahan. Aku melayang. Nikmat sekali. Lidahku membolak-balikkan dan memuntahkan bijinya. Kembali ku sesap. Dan, aku tidak ingin segera menelannya.
Tersisa sebutir di tanganku. Aku kembali teringat Lek Mun. Kenapa warga di desa ini begitu membencinya? Aku tak pernah melihat perawakan jahatnya. Mataku kembali tertuju pada anggur merah di tanganku. Ah, aku tidak ingin segera melahapnya. Biarlah ku simpan sisanya.
Menjelang sore perutku terasa amat sakit. Seperti ada yang menusuk dan bersarang di perut kiri bagian bawah. Ingin muntah tapi tertahan. Tubuhku berkeringat. Baju yang kukenakan basah. Udara di bilik serasa panas. Padahal angin berembus masuk dari celah gedek, dinding dari anyaman bambu.
Aku menangis, menjerit, meronta, sembari memegangi perut. jeritanku pecah, mengundang seisi rumah. Bahkan angin membawanya keluar melalui celah gedhek hingga sampai ke telinga para tetangga.
Aku terus menangis dan menjerit. Pandanganku kabur. Tak lama ku lihat emak, bapak, dan Kak Kohar masuk ke bilik kamarku.
“Kenapa, Le?” emak bertanya, panik. Ia merangkulku. Air matanya tumpah. Ku rasakan satu-dua jatuh tepat di pipiku.
Di sisi lain bapak meraba dan menekan pelan perut yang sedari tadi aku pegangi.
“Perutnya bagian bawah-kiri sangat keras”, kata bapak. Ia kemudian meletakkan punggung telapak tangannya di dahiku. “Koh, cepat panggil Mbah Pandu”, pinta bapak kepada Kak Kohar.
Kak Kohar segera meninggalkan bilik. Sementara itu, satu persatu tetangga mulai memasuki bilikku tanpa permisi tanpa diundang. Jerit tangisku mungkin membuat mereka yang mendengar bertanya-tanya. Ada apa? Samar ku lihat ada Lik Parmin, Lik Khasan, dan Lik Syarib turut berdiri di antara tetangga lainnya. Seketika sesak dan semakin pengap.
“Ini pasti karena begenggek sialan itu. Keparat!” sayup-sayup kudengar umpatan itu dari mulut Lik Syarib sebelum semuanya gelap, tak mendengar apa-apa. Aku tak sadarkan diri.
Gema tahlil merambat, mengisi tiap sudut rumah. Malam itu rumah Yeni penuh jamaah tahlil. Tampak pula Lik Khasan, Lik Syarib, dan Lik Parmin di antaranya. Pak Zen memimpin dengan khusyu, diikuti oleh jamaah. Tapi entah dengan hati – aku tak tahu. Bahkan aku sendiri yang duduk di antara mereka. Mulut melantunkan ayat-ayat suci (bertahlil), namun mulut, hati, dan pikiran tak sejalan. Hatiku tak karuan. Pikiranku selalu memaksaku mengingatnya.
“Ah, bukankah kau tak layak untuk aku pikirkan? Kau lebih layak untuk ku perjuangkan, Yeni”, kataku dalam hati.
Sebelum mulai acara tahlil sempat ku tangkap senyumnya. Senyum yang hampir tak pernah kusaksikan sejak tragedi itu. Tragedi yang kini turun-temurun diceritakan dari mulut ke telinga. Bahkan aku pun tak mengerti secara pasti yang sebenarnya terjadi.
Jamuan dihidangkan usai tahlil ditutup doa Pak Zen. Makanan ringan seperti: keripik singkong, kacang atom, kacang asin; dan buah-buahan tertata rapi di piring tersuguh. Tak ada raut kusut yang terpancang di setiap wajah. Semua larut dalam perbincangan apa pun. Mulai dari wereng yang mulai menyerbu tanaman padi di sawah hingga perihal kecantikan Yeni yang membuat semua yang ada di rumah itu terkagum-kagum.
Tak kudapati pula raut masam, sedih, atau bahkan dendam di wajahnya. Ia telah memaafkan atas tragedi sebelas tahun silam. Tak tersisa sama sekali meski ku rasa bukan hal mudah. Ia lebih tabah dari yang ku kira, lebih tabah dari Hujan Bulan Juni.
“Yen, senyummu berbeda dari terakhir kali kulihat sebelum kau dikirim ibumu ke pondok pesantren di Jawa Timur. Aku masih ingat waktu itu kita kelas empat SD. Aku menghasutmu agar kau tak menuruti kemauan ibumu, sebab di pesantren kau tak akan merasa bebas. Tapi kau tak mau mendengarkanku. Dan malam ini adalah malam kusaksikan senyum terindahmu. Senyum yang beriringan dengan senyum mereka. Terkembang tanpa beban sembari menikmati jamuan anggur merah yang kau hidangkan”, kataku dalam hati.
Zahid Arofat ~ cerpenis muda asal Pati

Ketuanya Dipecat, Ini Tips Agar Kader PKS Tak Baper

Lagu Bojo Ketikung Via Vallen setidaknya bisa menyalurkan naluri baper para kader PKS karena Ketuanya dipecat tanpa penjelasan. (foto: Gambangsemarang.com/rvwap.net)

Drama DPW PKS yang memecat Kamal Fauzi sebagai ketua dengan alasan dibutuhkan tenaga dan pikirannya untuk mengurusi Wilayah Dakwah Jawa Tengah, layak menjadi bahan renungan. Yang utama adalah karena timing atau waktu yang nggak pas. Kedua, Kamal Fauzi selaku korban yang ditikung tak diberitahu secara langsung. Namanya juga ditikung.

Ibarat orang pacaran, pernikahan sudah di depan mata, tiba-tiba gagal. Ustad Kamal Fauzi diperlakukan sebagai penghulu yang gagap. Sebagai penghulu Kamal sudah siap menandatangani dokumen nikah. Maka dokumen pilgub 2018 yang sudah ia tanda tangani barangkali kelak akan menjadi bungkus nasi kucing saja.

Malam sebelumnya ia ke Gramedia, mencari sebuah ballpoint yang beradab dan bermartabat.

“Wah Mont Blanc bagus. Tapi mahal banget,” kata Kamal.

Kamal Fauzi layak galau. Sebagai seorang ustad ia memang tak pernah mendengarkan lagu pop. Andai ia menyimak lagunya Pinkan Mambo “Kekasih Yang Tak Dianggap”, mungkin derajat kegalauannya tak mencapai level maksimal.

Galau hati Kamal Fauzi sebagai Kekasih Yang Tak Dianggap Ketua DPW PKS yang tak dianggap, tentu bukan karena ia gila jabatan. Secara personal Kamal Fauzi adalah sosok yang sederhana, nggak aneh-aneh. Ia tak gila harta apalagi jabatan.

Ketika menjadi anggota DPRD Jateng periode 2004-2009, ia bahkan setiap hari harus naik bus dan angkutan umum sejak usai salat subuh. Kamal tak memiliki mobil. Sikap itu ia pertahankan ketika pendapatannya sebagai anggota DPRD Jateng membaik.

Trus kemana duit Kamal Fauzi?

Ternyata paling banyak untuk membiayai tugas-tugas keumatan. Ia sering diminta mengisi pengajian, pulangnya tak ada uang transport, eh justru ia harus ninggali uang saku kepada sang pengundang.

“Pulangnya diberi roti Wonder itu sudah sangat luar biasa,” kata Kamal saat itu.

Pengganti Kamal adalah Abdul Fikri Faqih. Kader yang luar biasa militan dan juga sederhana seperti Kamal. Tapi Fikri hanya menjalankan amanat DPP saja. Ia tentu tidak tahu jika DPP PKS sudah terkena sindrome Via Vallen atau Nella Kharisma yang melantunkan Bojo Ketikung.

Jadi baiknya, buat antum wahai akhi dan ukhti PKS Jateng, agar jangan baper, baiknya simak aja lagu bojo ketikung. Dari lagu itu, antum-antum semua bisa belajar bahwa ketikung itu menyakitkan. Namun percayalah setiap tikungan selalu menawarkan janji masa depan yang tak kita ketahui.

a..ku kurang opo, kok koe iso tego
(aku kurang apa, kok kamu bisa tega)
opo ono salahku terus kowe nikung aku
(apa ada salahku hingga kamu menikungku)
aku kudu tak ajarno, kok aku kudu lilo
(aku harus kamu ajari karena aku harus ikhlas)