All posts by gambangsemar

Klarifikasi Presiden PKS tentang Ketua DPW PKS Jateng

Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman di mobil ambulans menemani warga. (foto:gambangsemarang.com/suarajakarta.co)

Postingan pertama tentang ketua DPW PKS Jateng Kamal Fauzi yang dicopot dari jabatan ketua tanpa melalui mekanisme yang semestinya, menuai reaksi. Sebuah mobil Toyota Previa warna putih tiba-tiba parkir di halaman kantor.

Dua orang turun dari dalam mobil. Badannya tak terlalu gemuk, namun ia sangat berwibawa. Kacamata dan senyum menjadi sebuah komposisi seru yang membius. Berwibawa. Ya, sangat berwibawa.

“Assalamu Alaikum,” sebuah salam menerpa telinga.

“Wa alaikum salam,” security kantor menjawab.

“Mau minta tolong, bisa dibantu ketemu redaktur atau malah bos kantor ini mas?”

“Siap. Mohon maaf dari siapa ya?”

“Sampaikan saja, saya doktor Mohamad Sohibul Iman. Saya presiden PKS,” kata pria yang sangat berwibawa ini dengan aksen Sunda.

“Siap. Oh, ada negara baru bernama PKS ya kok presiden. Wah bapak sebagai presiden kurang mboys pak. Presiden itu harusnya dikawal Pampers, maksud saya Paspampres.”

“Sampaikan saja. Segera.”

“Sss…..si…si…siap Pak!” kali ini security mengambil sikap sempurna.

Sungguh ketegasan suara yang menggelegar itu telah meruntuhkan sikap egaliter si security. Egaliter memang menjadi sebuah syarat untuk bekerja di kantor kami.

Bukannya melapor ke boss, security itu malah lari ke dapur. Ia menyeduh kopi sachetan. Tangan kanan mengaduk kopi, tangan kiri memegang hape, matanya menatap layar. Si security itu coba stalking mantan tamunya.

Eureka…ketemu,” teriaknya bergaya filsuf menemukan sesuatu.

Yap. Mohamad Sohibul Iman adalah makhluk tertinggi dalam organisasi bernama Partai Keadilan Sejahtera. Ia lahir pas hari TNI, 5 Oktober 1965. Eh tahun 1965? Yap…tapi tahun bersejarah nan seru itu ia baru lahir lho. Lagipula kan tanggal 5 Oktober, harinya tentara. Jangan berpikiran macam-macam.

Kemampuan stalking security kantor memang luar biasa. Ia mencatat pula nama Uswindraningsih Titus sebagai istrinya. Lha ikut dan menunggu di dalam mobil kok. Dengan AC dimatikan pula.

Dari sisi pendidikan, Sohibul ini jelas sangat berpendidikan. Ia kuliah di Takushoku University, kemudian di Universitas Waseda, Japan Advanced Institute of Science and Technology. Serba wow dan serba uhuy pokoknya.

Security kantor merenung. Ia sebenarnya ingin mengajak istrinya jalan-jalan ke Kampung Pelangi. Namun apa daya kantongnya kosong. Sedangkan tamunya ini, bukan hanya pernah ke Kampung Pelangi, namun juga ke Jepang. Tak hanya jalan-jalan, tapi sekolah coy…sekolah.

Suara tokek menyadarkan lamunan security itu. Ia kemudian ke lobi kantor, menemui tamunya.

“Maaf yang terhormat bapak Presiden. Ada keperluan apa mau bertemu boss kami? Saya harus taat aturan seperti bapak. Seperti lembaga yang bapak pimpin yang selalu taat aturan, jadi harus ada sedikit interogasi kecil ini,” kata security dengan kesantunan kucing yang lapar dan menggesek kaki juragannya.

“Kalau beliau sibuk, sampaikan saja, kami mau klarifikasi tentang tulisan kemarin. Ketua DPW PKS Jateng itu tidak dicopot, diganti apalagi dipecat. Seperti katamu tadi, di PKS itu untuk mencopot atau mengganti ketua, ada mekanismenya. Kami mengenal Pemilihan raya atau Pemira. Itu yang memilih Majelis Syuro dan mengajukan nama-nama yang akan dicalonkan. Tolong sampaikan boss antum eh sampeyan. Klarifikasi ini harus ditulis dan dimuat.”

“Sebentar bapak Presiden yang terhormat. Mohon diulangi saya akan rekam dan nanti rekaman itu akan saya sampaikan mas-mas boss dan dedek-dedek gemes di redaksi.”

Maka Presiden PKS itu kemudian memberikan statemen seperti yang sudah disampaikan kepada security tadi. Aksen sundanya hilang, ia sangat Indonesia. Ketegasan suaranya seperti ketegasan seekor kucing lapar terhadap ikan asin.

“Kalau kami melanggar AD/ART dan mencopot Kamal Fauzi tanpa mekanisme Pemira, kami bisa kalah kalau di PTUN. Jadi sekali lagi kami tegaskan. Bukan dicopot atau diganti, namun Kamal Fauzi diberi tugas lain yang lebih besar karena partai sangat membutuhkan tenaganya. Adapun posisi sebagai ketua sekarang dijabat Abdul Fikri Faqih. Ia bukan menggantikan Kamal Fauzi, namun itu tugas baru dia. Wassalamu alaikum.”

Rekaman dimatikan. Sohibul berjalan gagah menuju mobilnya. Dan yang membuat security kantor terbelalak, ternyata ia nyetir sendiri.

Belum sampai terdengar suara Toyota Previa itu distarter, tiba-tiba tercium bau aneh. Kayak tai cicak.

Hajinguk….cecak ngising sembarangan. Pas irung sisan. Gak ngenak-enaki wong turu,” saya misuh-misuh.

Ternyata kebanyakan keinginan dan cita-cita dalam diri saya menyebabkan tidur siangpun bermimpi. Trus kemana sohib bernama Sohibul Iman tadi? Ya embuh, wong namanya saja cuma mimpi kok. Tapi dalam mimpi ini saya mendapat moral cerita dari pak Presiden, yakni taat aturan dan kerendahan hati sehingga mau berkunjung ke kantor yang belum dibangun itu.

Kisah Wanita Anggur Merah


ilustrasi (gambangsemarang.com)
Gawaiku bergetar. Layarnya berkedip. Sebuah pesan whatsap masuk. Ku lihat sesaat. Dari Yeni. Aku tersenyum. Ku rasa ia juga sedang tersenyum di sana. Atau hanya imajinasiku yang merangkai senyumnya lebar di mataku.  Entahlah. Aku merindukanmu saat ini.
Ku ambil sebutir anggur merah. Ku pandang lamat-lamat. Aku teringat seseorang: perempuan yang membuatku merasakan manisnya anggur merah untuk pertama kali, wanita yang mengobati rasa penasaran dan takjub anak kecil terhadap (kata) anggur merah. Ya, hanya sebatas buah anggur.
Derik tonggeret dan jangkrik bersahut-sahutan di luar.  Desis angin malam bersiul melewati celah-celah bambu. Dan, gawaiku bergetar. Layarnya berkedip. Sebutir anggur merah terjatuh dari tanganku.
Mentari masih belia mengintip. Ku kayuh ‘untaku’ yang pedalnya hanya sebelah menuju sekolah di dusun sebelah. Saat melewati rumah terakhir di penghujung dusun, terdengar suara perempuan memanggilku. Aku sontak menginjak rem karet dari sandal bekas yang terpancang di atas ban depan.
Dari dalam rumah tersebut keluar seorang perempuan paruh baya. Dia berjalan ke arahku. Tangan kanannya menggenggam sesuatu.
“Nang, ini aku ada anggur untukmu”.
Perempuan itu menyodorkan dua buah anggur merah kepadaku. Aku sangat senang sekali saat menerima pemberiannya, saat melihat dan menyentuh pertama kali anggur merah.
“Terima kasih, Lik”, sembari memasukkan dua buah anggur merah ke saku seragam pramuka.
“Hati-hati ya, Nang! Sekolah dan belajar yang rajin biar pintar. Berbaktilah kepada orang tua!”
Ku cium punggung telapak tangannya. Kembali ku kayuh sepedaku ke sekolah. Semakin cepat. Tak sabar.
“Akan ku tunjukkan ke teman sebangkuku nanti” pikirku. “Bukankah ia sudah sering makan buah anggur merah? Bukankah di dalam lemari kulkasnya selalu tersedia setiap hari? Ah biarlah”, aku menggerutu dalam hati.
Sesampainya di kelas ku keluarkan dan ku baui dua anggur merah yang aduhai menggoda. Segera ku tunjukkan kepada Danar, kawan sebangkuku.
“Dan, aku punya dua butir anggur merah. Tapi aku tidak akan membaginya sebutir untukmu”, kataku kepada Danar, sembari menunjukkan dua buah anggur tepat di depan mukanya.
“Ah, Cuma dua butir. Aku di rumah punya banyak. Bahkan hampir setiap hari buah itu tersedia di dalam kulkas. Weeee…”, Danar mengejekku.
“Tapi ini beda”, tukasku.
“Beda? Apanya yang beda? Memangnya kamu sudah pernah makan sebelumnya sehingga kamu bisa bilang beda?”
“Pokoknya beda”, jawabku sedikit kesal.
Kembali ku amati lamat-lamat. Ah, ku rasa aku tak ingin buru-buru. Merah bulatnya memaksaku untuk kembali menyimpannya. Ku masukkannya ke dalam kantong.
Sepulang sekolah – di pertigaan dekat mushola dusunku, tiga tetanggaku mencegat: Lik Parmin, Lik Khasan, dan Lik Syarib. Wajah mereka terlihat serius.
“Kamu tadi pagi diapakan Si Begenggek?” tanya Lik Khasan.
“Iya. Tadi pagi aku melihat kamu sedang berdua sama lonte itu. Kamu dikasih apa, hee…?” sambung Lik Parmin.
Dengan perasaan sedikit takut aku mencoba menjawab pertanyaan mereka.
“Dia memberiku dua buah anggur merah. Hanya itu, Lik”, jawabku.
“Hee.., kamu makan anggur hasil dari kelakuan dosanya?” tambah Lik Syarib.
Aku hanya diam – menunduk. Terlebih sebab aku tidak mengerti apa yang mereka katakan: tentang begenggek, lonte, dan perbuatan dosa. Yang aku tahu bahwa perempuan itu janda beranak satu. Dia sering memberiku uang saku dua ratus rupiah saat aku melintas depan rumahnya ke sekolah – bahwa dia yang membuat aku dapat merasakan nikmatnya anggur merah, dan bahwa dia perempuan yang baik.
“Dusun kita ini terkenal dengan orang-orangnya yang alim, pintar mengaji, dan pintar ilmu. Namun, wanita itu..”
“Kenapa dengan Lik Mun?” aku mencoba bertanya.
“Sudahlah. Kamu lebih baik pulang. Dan, jangan pernah lagi berurusan dengan begenggek itu”, imbuhnya.
“Tapi kenapa? Dia baik kepadaku. Kalau kalian merasa lebih baik darinya, kenapa kalian tidak memberiku uang saku seperti yang dilakukannya? Bukankah kata Pak Zen, guru ngaji di dusun pernah berkata bahwa orang baik adalah orang yang tidak pernah menggap dirinya baik serta tidak pernah menganggap orang lain buruk?” batinku dalam hati.
Kembali ku kayuh sepedaku, ingin segera pulang. Aku tak ingin berlama-lama melihat wajah merah-padam mereka, berlama-lama mendengar umpatan mereka tentang Lik Mun, dan, aku tak ingin berlama-lama menyimpan anggur merah di sakuku. Ingin segera ku menyentuhnya.
Segera ku sandarkan ‘untaku’ di cagak (tiang rumah) teras rumah. Bergegas masuk kamar. Ku lempar tas di balai bambu. Aku duduk, napasku tersengal. Ku gapai dua butir anggur dari dalam saku. Kupandangi lamat-lamat.
“Rasanya aku tidak ingin segera melahapmu. Tapi aku penasaran”, gumamku.
Rasa penasaran itu semakin mendesak, menggerakkan tanganku, menuntunnya memasukkan sebutir anggur merah ke dalam mulut. Ku kulum sebentar, ku kunyah perlahan. Satu-dua kunyahan. Aku melayang. Nikmat sekali. Lidahku membolak-balikkan dan memuntahkan bijinya. Kembali ku sesap. Dan, aku tidak ingin segera menelannya.
Tersisa sebutir di tanganku. Aku kembali teringat Lek Mun. Kenapa warga di desa ini begitu membencinya? Aku tak pernah melihat perawakan jahatnya. Mataku kembali tertuju pada anggur merah di tanganku. Ah, aku tidak ingin segera melahapnya. Biarlah ku simpan sisanya.
Menjelang sore perutku terasa amat sakit. Seperti ada yang menusuk dan bersarang di perut kiri bagian bawah. Ingin muntah tapi tertahan. Tubuhku berkeringat. Baju yang kukenakan basah. Udara di bilik serasa panas. Padahal angin berembus masuk dari celah gedek, dinding dari anyaman bambu.
Aku menangis, menjerit, meronta, sembari memegangi perut. jeritanku pecah, mengundang seisi rumah. Bahkan angin membawanya keluar melalui celah gedhek hingga sampai ke telinga para tetangga.
Aku terus menangis dan menjerit. Pandanganku kabur. Tak lama ku lihat emak, bapak, dan Kak Kohar masuk ke bilik kamarku.
“Kenapa, Le?” emak bertanya, panik. Ia merangkulku. Air matanya tumpah. Ku rasakan satu-dua jatuh tepat di pipiku.
Di sisi lain bapak meraba dan menekan pelan perut yang sedari tadi aku pegangi.
“Perutnya bagian bawah-kiri sangat keras”, kata bapak. Ia kemudian meletakkan punggung telapak tangannya di dahiku. “Koh, cepat panggil Mbah Pandu”, pinta bapak kepada Kak Kohar.
Kak Kohar segera meninggalkan bilik. Sementara itu, satu persatu tetangga mulai memasuki bilikku tanpa permisi tanpa diundang. Jerit tangisku mungkin membuat mereka yang mendengar bertanya-tanya. Ada apa? Samar ku lihat ada Lik Parmin, Lik Khasan, dan Lik Syarib turut berdiri di antara tetangga lainnya. Seketika sesak dan semakin pengap.
“Ini pasti karena begenggek sialan itu. Keparat!” sayup-sayup kudengar umpatan itu dari mulut Lik Syarib sebelum semuanya gelap, tak mendengar apa-apa. Aku tak sadarkan diri.
Gema tahlil merambat, mengisi tiap sudut rumah. Malam itu rumah Yeni penuh jamaah tahlil. Tampak pula Lik Khasan, Lik Syarib, dan Lik Parmin di antaranya. Pak Zen memimpin dengan khusyu, diikuti oleh jamaah. Tapi entah dengan hati – aku tak tahu. Bahkan aku sendiri yang duduk di antara mereka. Mulut melantunkan ayat-ayat suci (bertahlil), namun mulut, hati, dan pikiran tak sejalan. Hatiku tak karuan. Pikiranku selalu memaksaku mengingatnya.
“Ah, bukankah kau tak layak untuk aku pikirkan? Kau lebih layak untuk ku perjuangkan, Yeni”, kataku dalam hati.
Sebelum mulai acara tahlil sempat ku tangkap senyumnya. Senyum yang hampir tak pernah kusaksikan sejak tragedi itu. Tragedi yang kini turun-temurun diceritakan dari mulut ke telinga. Bahkan aku pun tak mengerti secara pasti yang sebenarnya terjadi.
Jamuan dihidangkan usai tahlil ditutup doa Pak Zen. Makanan ringan seperti: keripik singkong, kacang atom, kacang asin; dan buah-buahan tertata rapi di piring tersuguh. Tak ada raut kusut yang terpancang di setiap wajah. Semua larut dalam perbincangan apa pun. Mulai dari wereng yang mulai menyerbu tanaman padi di sawah hingga perihal kecantikan Yeni yang membuat semua yang ada di rumah itu terkagum-kagum.
Tak kudapati pula raut masam, sedih, atau bahkan dendam di wajahnya. Ia telah memaafkan atas tragedi sebelas tahun silam. Tak tersisa sama sekali meski ku rasa bukan hal mudah. Ia lebih tabah dari yang ku kira, lebih tabah dari Hujan Bulan Juni.
“Yen, senyummu berbeda dari terakhir kali kulihat sebelum kau dikirim ibumu ke pondok pesantren di Jawa Timur. Aku masih ingat waktu itu kita kelas empat SD. Aku menghasutmu agar kau tak menuruti kemauan ibumu, sebab di pesantren kau tak akan merasa bebas. Tapi kau tak mau mendengarkanku. Dan malam ini adalah malam kusaksikan senyum terindahmu. Senyum yang beriringan dengan senyum mereka. Terkembang tanpa beban sembari menikmati jamuan anggur merah yang kau hidangkan”, kataku dalam hati.
Zahid Arofat ~ cerpenis muda asal Pati

Ketuanya Dipecat, Ini Tips Agar Kader PKS Tak Baper

Lagu Bojo Ketikung Via Vallen setidaknya bisa menyalurkan naluri baper para kader PKS karena Ketuanya dipecat tanpa penjelasan. (foto: Gambangsemarang.com/rvwap.net)

Drama DPW PKS yang memecat Kamal Fauzi sebagai ketua dengan alasan dibutuhkan tenaga dan pikirannya untuk mengurusi Wilayah Dakwah Jawa Tengah, layak menjadi bahan renungan. Yang utama adalah karena timing atau waktu yang nggak pas. Kedua, Kamal Fauzi selaku korban yang ditikung tak diberitahu secara langsung. Namanya juga ditikung.

Ibarat orang pacaran, pernikahan sudah di depan mata, tiba-tiba gagal. Ustad Kamal Fauzi diperlakukan sebagai penghulu yang gagap. Sebagai penghulu Kamal sudah siap menandatangani dokumen nikah. Maka dokumen pilgub 2018 yang sudah ia tanda tangani barangkali kelak akan menjadi bungkus nasi kucing saja.

Malam sebelumnya ia ke Gramedia, mencari sebuah ballpoint yang beradab dan bermartabat.

“Wah Mont Blanc bagus. Tapi mahal banget,” kata Kamal.

Kamal Fauzi layak galau. Sebagai seorang ustad ia memang tak pernah mendengarkan lagu pop. Andai ia menyimak lagunya Pinkan Mambo “Kekasih Yang Tak Dianggap”, mungkin derajat kegalauannya tak mencapai level maksimal.

Galau hati Kamal Fauzi sebagai Kekasih Yang Tak Dianggap Ketua DPW PKS yang tak dianggap, tentu bukan karena ia gila jabatan. Secara personal Kamal Fauzi adalah sosok yang sederhana, nggak aneh-aneh. Ia tak gila harta apalagi jabatan.

Ketika menjadi anggota DPRD Jateng periode 2004-2009, ia bahkan setiap hari harus naik bus dan angkutan umum sejak usai salat subuh. Kamal tak memiliki mobil. Sikap itu ia pertahankan ketika pendapatannya sebagai anggota DPRD Jateng membaik.

Trus kemana duit Kamal Fauzi?

Ternyata paling banyak untuk membiayai tugas-tugas keumatan. Ia sering diminta mengisi pengajian, pulangnya tak ada uang transport, eh justru ia harus ninggali uang saku kepada sang pengundang.

“Pulangnya diberi roti Wonder itu sudah sangat luar biasa,” kata Kamal saat itu.

Pengganti Kamal adalah Abdul Fikri Faqih. Kader yang luar biasa militan dan juga sederhana seperti Kamal. Tapi Fikri hanya menjalankan amanat DPP saja. Ia tentu tidak tahu jika DPP PKS sudah terkena sindrome Via Vallen atau Nella Kharisma yang melantunkan Bojo Ketikung.

Jadi baiknya, buat antum wahai akhi dan ukhti PKS Jateng, agar jangan baper, baiknya simak aja lagu bojo ketikung. Dari lagu itu, antum-antum semua bisa belajar bahwa ketikung itu menyakitkan. Namun percayalah setiap tikungan selalu menawarkan janji masa depan yang tak kita ketahui.

a..ku kurang opo, kok koe iso tego
(aku kurang apa, kok kamu bisa tega)
opo ono salahku terus kowe nikung aku
(apa ada salahku hingga kamu menikungku)
aku kudu tak ajarno, kok aku kudu lilo
(aku harus kamu ajari karena aku harus ikhlas)

Ketua PKS Jateng Dipecat Jelang Pilgub, Ada Apa?

Hanya satu hari menjelang pendaftaran terakhir pemilihan gubernur Jawa Tengah, Ketua DPW PKS Jawa Tengah Kamal Fauzi dicopot dari jabatannya. Pencopotan itu tertuang dalam SK DPP PKS no 111/SKEP/DPP-PKS/1439 bertanggal 20 Desember 2017.

Tentu saja pemecatan Kamal Fauzi ini mengejutkan kader PKS di Jawa Tengah. Apalagi karena Kamal Fauzi dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah bermanuver aneh-aneh.

Hasil investigasi Gambang Semarang, sebelum dipecat, Kamal Fauzi dipanggil ke DPP PKS. Di kantor partai yang keren ini, kamal Fauzi diminta mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPW PKS Jateng.

Atas permintaan DPP, Kamal Fauzi menolak. Dasar penolakannya adalah karena ia dipilih oleh Majelis Syuro yang mendasarkan pilihannya pada Pemilu Raya yang diikuti seluruh kader inti PKS Jateng.

Susunan Struktur DPW PKS yang menunjukkan nama Kamal Fauzi hilang dari jabatan ketua dan diganti dengan Abdul Fikri Faqih. (foto: GambangSemarang.com)

“Apa kesalahan ane? Kalau ane nggak salah, ya ane nggak mau,” begitu kira-kira jawaban Kamal Fauzi.

Penolakan ini kemudian dinilai sebagai sebuah bentuk pembangkangan terhadap pimpinan. Bagaimanapun sebagai Partai dakwah, PKS pasti menganut prinsip Sami’na Wa Atho’na. Kami dengar dan kami taat.

“Lha ane kan pimpinan antum. Lha kok berani ngeyel. Itu nggak Sami’na Wa Atho’na banget lho. Mau jadi ustad jaman now yang berani membantah ya?” begitu jawaban dari DPP yang entah siapa.

Nah, atas pencopotan inilah maka spekulasi publik mengarah ke pelaksanaan pemilihan gubernur. DPP PKS rupanya galau kalau dipimpin Kamal Fauzi nanti PKS Jateng tak bisa dikendalikan. Padahal sudah ada kesepakatan nasional bahwa PKS berkoalisi dengan Gerindra dan PAN di lima propinsi.

Lalu apa kesalahan Kamal?

Gambang Semarang mendapat bisikan bahwa Kamal Fauzi memang tak bersalah. Sebab kalau ia dinyatakan bersalah, pasti sudah berada di penjara. Namun bisikan itu menyebutkan pemecatan itu merupakan hasil kesepakatan dua presiden. Yang pertama jelas Presiden PKS, yang kedua presiden ini masih misterius. Yang jelas ia tinggal di istana, nggak seperti Kamal Fauzi yang tinggal di ndeso.

Presiden misterius itu meminta agar PKS Jateng mengamankan salah satu calon Gubernur Jateng. Perkara koalisi, ah itu kan hanya masalah administratif saja. Yang penting dengan modal kursi sebagai syarat administrasi, PKS ikut memberikan dukungannya,

“Jadi nanti pas kampanye dan kerja-kerja pemenangan, sebaiknya PKS nggak usah seperti biasanya. Capek. Kalau capek dan mau pijat, nanti ketahuan ke panti pijat kan berabe. Meski pijat beneran dan nggak plus lho,” kata Presiden misterius itu kepada Presiden PKS.

Presiden PKS juga sudah memberi klarifikasi disini.

Benarkah bisikan yang diterima Gambang Semarang itu? Kita lihat saja nanti pas pelaksanaan kampanye. PKS akan mengerahkan ribuan umatnya atau nggak.

Imlekan di Semarang Biar Nggak Jomblo

barongsay menjadi pemandangan sehari-hari di pecinan Semarang, terutama menjelang imlek. (foto: gambangsemarang.com / greatindonesia)

Bentar lagi imlek ya. Selamat deh bagi yang merayakan. Mau imlekan dimana? Kalau belum punya agenda, ke Semarang aja.

Banyak kelenteng di pecinan yang siap menerima kunjungan. Kelenteng-kelenteng itu tentu dengan keistimewaan kongco (dewa) yang berbeda-beda. Meski tiap kelenteng selalu saja ada Kongco Kwan Im Poo Sat.

Baiklah. Di pecinan Semarang sendiri ada sebelas kelenteng yang keren, bersejarah, dan masih terawat. Itu baru di pecinan, belum yang di luar pecinan macam gedung Batu.

Secara singkat aja ya. Kalau ditulis semua, sampai imlek nanti gak selesai ngebahasnya. Karena semua memiliki keistimewaan.

Bagi yang ingin imlekan, silakan pilih. Kelenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur No 38, Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa di Jalan Gang Pinggir No 105-107, Kelenteng Tay Kak Sie di Jalan Gang Lombok No 62, dan Kelenteng Kong Tik Soe di Jalan Gang Lombok.

Ada juga Kelenteng Hoo Hok Bio di Jalan Gang Cilik No 7, Kelenteng Tong Pek Bio di Jalan Gang Pinggir No 70, Kelenteng Wie Hwie Kiong di Jalan Sebandaran I No 26, Kelenteng Ling Hok Bio di Jalan Gang Pinggir No 110, dan Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong Jalan Sebandaran I No 32.

Modiaar…akehe !!

Sekarang kita bahas yang menonjol dan paling banyak dikunjungi.

Hanya Penyanyi Dangdut Yang Tahu Kualitas Calon Kepala Daerah

Gaya penyanyi dangdut di panggung kampanye. (foto:gambangsemarang.com/mediadangdut.com)

Musim Durian sudah hampir selesai. Sebagai gantinya, sebentar lagi datang musim pilkada. Bahkan prosesnya sudah dimulai. Diawali dari musim sosialisasi dilanjutkan dengan musim kampanye dan puncaknya adalah musim coblosan.

Agar tak salah pilih dalam pilkada nanti, mulai sekarang berbaik-baiklah dengan kru musik Dangdut. Mulai dari manajemennya, grupnya, awak grup, hingga penyanyinya. Sebab merekalah yang tahu persis kualitas calon kepala daerah.

Sayang sekali, masyarakat yang demen melototi timeline media sosial, lebih suka menebar ikon jempol tanda suka dan komentar nyinyir. Mereka lebih percaya berita hoax dibanding mencari tahu kebenaran informasi secara rasional.

Mengapa penyanyi dangdut layak menjadi tempat bertanya?

Jelas sekali. Pertama, saat memasuki musim kampanye, mereka yang akan dikontrak habis-habisan oleh para calon. Tak peduli persyaratan yang diajukan sangat berat, atau tarif yang mendadak naik, para calon kepala daerah ini tetap akan mem-booking.

Biasanya seorang penyanyi Dangdut kampung yang biasa main organ tunggal mendapat bayaran seratus ribu tiap tampil. Angka seratus ribu itu akan bergerak naik dengan cepat begitu masuk musim kampanye.

“Wah tanggal itu saya ada job mas. Bolehlah saya cancel, tapi bayar di depan lunas!”

Kepingin kampanyenya meriah, berapapun harga yang dipasang, calon pasti akan setuju. Biasanya langsung memberi depe sebagai ikatan.

Nah, si penyanyi dangdut yang berpengalaman akan menolak depe itu. Mereka maunya dibayar cash. Sebab berdasar pengalaman, yang dikontrak panjang ikut ngalor ngidul kampanye itu, janjinya akan dibayar usai proses kampanye selesai. Iyo nek kepilih, nek ora? Modaro dewe. Gak bakal dibayar.

Itu baru untuk menilai apakah seorang kepala daerah hanya banyak janji atau nggak. Ngapusi ora. Korupsi ora. Jangan-jangan hanya janji kampanye. Njelehi to. Kebanyakan memang kemudian nggak dibayar, dengan alasan kalah. Kakekane to.

Hajinguk, Wartawan Ini Ditampar Tim Sukses Calon Gubernur Ndes

Wajah serem tapi dikampleng tim sukses cagub ndes. (foto: gambangsemarang.com / dok.bucek)

Malam ini, Kamis (29/3/2018) tengah malam, menjelang pergantian tanggal tiba-tiba gawai gambangsemarang.com berbunyi. Berisik banget.

Tentu jam-jam itu adalah jam rawan karena meupakan titik lelah. Wajar juga jika gambangsemarang.com mulai diserang ngantuk.

Gawai dibuka. Olala, ternyata sebuah pesan yang mirip pesan terakhir dari orang yang tengah meniti jembatan siratal mustaqiem. Yang njelehi bin nyebeli dan kakekane, ini kabar nggak ada lucunya blas.

Berikut kutipan lengkapnya.

“Selamat malam.

Malam ini saya dan beberapa wartawam lokal sedang mengajukan laporan polisi terkait peristiwa intimidasi dan kekerasan kepada kami.

Kronologisnya sebagai berikut :

Pertama pada pukul 16.30 WIT Calon Gubernur atas nama Said Assagaff bersama para Kepala Dinas duduk dimeja tengah rumah kopi lela sambil menikmati sajian kopi.

Para pejabat yang duduk bersama calon gubernur itu diantaranya : Sekda Maluku Hamin Bin Taher, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ismail Usehamu, Kepala Dinas Pendidikan Saleh Thio, dan staf ahli Gubernur Maluku Husen Marasabessy serta beberapa pengurus partai politik pendukung.

Seperti biasa teman-teman wartawan setelah melakukan liputan hendak nongkrong di rumah kopi lela sambil mengetik naskah berita.

Saya tiba di rumah kopi lela pukul 17.30 WIT dan duduk di meja dekat kasir. Saya dan dua rekan lainnya kemudian memesan kopi sambil merapikan posisi duduk.

Tidak lama Sam dan beberapa rekan lainnya yang baru kembali meliput kegiatan BPOM. Langsung duduk di tempat terpisah dengan kami.

Gentalentologi Itu Apa


Seorang warga Muntilan memahat batu dijadikan entah apa. (foto: gambangsemarang.com / edhie)

Weits…istilah apa pula ini. Ini istilah ngawur dari tiga kata dasar. Gen, talent, dan Logos. Artinya, ilmu yang mempelajari tentang bakat berdasarkan garis keturunan. Wkwkwkwk.

Gini. Saya mau cerita tentang kebiasaan di kampung saya, muntilan. Ndilalah kota ini dimanjakan dengan sungai-sungai yang membawa bebatuan andesit dari Merapi. Di daerah ini dan sekitarnya, percandian tersebar. Dengan menempatkan Borobudur sebagai pusat.

Dari berbagai thesis, pembangunan Borobudur didukung ahli-ahli pahat batu. Sejarah tak tertulis dan berdasar asumsi, muntilan adalah salah satu titik produksi aneka pernik pahat batu di jaman pembangunan Borobudur.

Karena pembangunan itu tak seperti legenda Bandung Bondowoso yang hanya semalam dan berdasar kesaktian mengutuk, maka Borobudur dan puluhan candi itu dikerjakan bertahun-tahun.

Keturunan para pemahat itulah yang kini masih melanjutkan seni pahat batu tersebut. Benarkah?

Jangan dijawab, karena saya lalu membayangkan peradaban jaman nabi Ibrahim as. Saat itu para pemahat batu menjadi musuh karena dianggap mencipta berhala. Hingga akhirnya raja Namrud menjadi musuh.

Jika peradaban ini terjadi di Muntilan, mungkin saya akan menangisi kakek moyang saya yang tinggal di Muntilan dan dikutuk memiliki ketrampilan pahat batu. Kami pasti akan jadi public enemy peradaban.

Kembali ke cerita awal.

Saat Waisak, kawan saya sekolah, Novin Novi dan Endang Es mengirim foto pelepasan lampion di Borobudur. Entah mengapa imajinasi saya langsung membawa pulang ke rumah.

Saya ingin menemui ayah dari endang, pak Doelkamid Djayaprana. Beliau adalah Pioneer dan tokoh seni pahat batu di kota saya itu. Saya pengin mendengar cerita-ceritanya yang seru.

“Ndang, aku pengin ngobrol sama bapak. Aku yakin bahwa bapak memiliki gen keturunan dengan para pemahat berbagai candi di daerah kita,” kataku suatu ketika.

Hingga kini, aku belum juga mewujudkan keinginan itu. Alasan selalu ada. Bahkan kalau perlu dicari.

Dengan pak Djayaprana, aku sangat akrab. Saat SMP aku pernah diajari memahat patung kodok, dan putranya sudah mahir membentuk patung Gupala. Ah….semoga beliau sehat!

Bagiku, memahat batu bukan sekedar ketrampilan. Meski bisa dipelajari dengan hasil yang sama, namun jika dilakukan oleh pemahat sekaliber pak Djayaprana akan ada kharisma dari hasil pahatannya.

Aku bisa membuat patung kodok dari batu. Pun nyaris semua pemahat yang ada di Muntilan. Tapi roh pahatan kami tentu sangat berbeda. Gampangnya kita sebut saja ada faktor “wih”. Sebuah faktor yang hanya bisa ditangkap dengan rasa pangrasa, bukan dengan panca indera.

Hmmm ini mau nulis apa sih?

Singkatnya, cuma pengin nulis bahwa muntilan itu sebuah kota yang dihuni para pemahat batu hebat. Dan sosok Doelkamid Djayaprana adalah sosok perintis di jaman Indonesia. Sosok yang saya yakini memiliki garis keturunan dengan para jagoan pahat batu berbagai candi di sekitar Magelang.

Udah? Nggak mutu gitu?

Ya. []

edhie prayitno ige, penulis, cerpenis asal Muntilan mukim di Semarang

Alasan Rasional Mengapa Kamal Fauzi Dicopot

Kamal Fauzi berjalan gontai. (foto:gambangsemarang.com/jateng.pks.id)

Ketua DPW PKS Jateng Kamal Fauzi dicopot dari jabatannya. Ia digantikan oleh Abdul Fikri Faqih, kader internal PKS yang sudah mulai nJakarta. Tentu DPP PKS memiliki alasan khusus sehingga pencopotan jabatan itu tak berani disampaikan langsung ke Kamal Fauzi.

Kamal Fauzi bahkan baru tahu dirinya dicopot ketika semangatnya bekerja berada di puncak. Ia tengah menandatangani dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam pemilihan Gubernur 2018. Kamal juga masih melayani wawancara dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPW PKS Jateng!!!

“Wah jan, tiwas ane melayani wawancara, jebule udah dipecat,” demikian Kamal Fauzi berseloroh kira-kira.

Nah, alasan apa yang paling rasional sehingga Kamal Fauzi harus dicopot? Berikut alasan-alasan rasional berdasar riset Gambang Semarang.

1.Tidak Taat Pemimpin

Dalam tradisi PKS sebagai partai dakwah, tentu akan menggunakan dalil Annadzofatu minal iman Sami’na Wa Atho’na. Kami mendengar dan kami taat. Dalam penilaian DPP PKS, Kamal Fauzi jelas dianggap tidak Sami’na Wa Atho’na. Salah satunya adalah tidak pernah setor durian ke DPP.

2. Cacat Administratif

Pemilihan Kamal Fauzi sebagai ketua DPP PKS Jawa Tengah, meskipun melalui Majelis Syuro dan Majelis yang berisi orang-orang hebat alim ulama ini mendasarkan pilihannya pada Pemilu Raya, namun tetap dinilai sebagai cacat administratif.

Cacat administratif yang utama adalah pada SK DPP PKS tentang Struktur Kepengurusan DPW PKS Jateng 2015-2020. Dalam SK yang menempatkan Kamal Fauzi sebagai ketua DPW Jateng itu, tanda tangan Presiden PKS dilakukan dengan tinta hitam dari ballpoint murahan. Nah, karena menggunakan ballpoint murahan inilah maka Presiden PKS Sohibul Iman tersadar bahwa Partai yang dipimpinnya sebenarnya Partai besar yang penandatanganan semua dokumen harus dengan pen yang branded.

Ada lima pen mahal yang dianggap recommended untuk menandatangani SK Partai politik di Indonesia. Tentu harganya mahal. Mengapa? Karena proses politik di Indonesia sangat mahal. Jadi pen yang digunakan tanda tangan merupakan simbol perilaku politik.

Secara singkat adalah Visconti Ripple, sebuah pen yang diproduksi terbatas dengan hiasan emas 18 karat dan berlian. Harganya US$ 57 ribu atau setara Rp 769,53 juta. (kurs US$1 = Rp 13.500).

Penampakan Aurora Diamante Fountain Pen seharga Rp 19,87 milyar. (foto: gambangsemarang.com/baklol.com)

Pen kedua adalah Omas Phoenix Fountain Pen Luxury Edition with Diamonds. Ini terbuat dari platinum dan emas 18 karat. Harganya US$ 60 ribu atau Rp 810,6 juta. Ketiga adalah La Modernista Diamonds Caran dAche. Dibuat di Swiss berbahan emas 18 karat dan dihias batu Ruby dan berlian. Harganya US$ 265 ribu atau Rp 3,5 milyar.

Keempat adalah Masterpiece Mont Blanc & Van Cleef & Arpels Limited Edition. Pulpen ini jelas mahal karena hasil koalisi dua merk top, yaitu Mont Blanc dan Van Cleef. Harganya US$ 730 ribu atau Rp 9,8 Milyar.

Dan pulpen terakhir yang dinilai layak untuk menandatangani SK Kepengurusan Partai di Indonesia adalah Aurora Diamante Fountain Pen. Pen ini hanya diproduksi satu buah. Dibuat dari emas 18 karat dan berlian 30 karat. Harganya US$ 1.470.600 atau Rp 19,87 milyar!

3. Menjadi Ketua dan Aktif di Partai

Alasan terakhir mengapa Kamal Fauzi dipecat dari jabatan sebagai ketua DPW PKS Jateng adalah karena Kamal Fauzi menjadi ketua. Seandainya ia hanya menjadi kader biasa, tentu DPP PKS akan sulit memecat Kamal Fauzi sebagai ketua.

Selain itu, alasan lain yang masuk akal adalah karena Kamal Fauzi aktif di partai politik. Seandainya ustad banyak senyum dan tak pernah terlihat marah ini aktif di PKK, tentu DPP PKS tak bisa memecatnya. Atau ketika Kamal Fauzi aktif di Karang Taruna, Kelompok Dasa Wisma, tentu saja DPP PKS tak punya alasan masuk akal untuk memecatnya.

Cewek vs ALS, Siapa Selalu Benar?

Dalan sepi malah alon-alon. (foto: gambangsemarang.com)

Jangan pernah sendirian jika berkendara di sepanjang jalan pantura!

Lha kenopo ik?

Jalan lempeng dan pemandangan yang gitu-gitu aja sering kali membuat siapa pun yang melintasinya cepat merasa bosan. Selain itu akan sangat terlihat seperti pendekar alias jomblo. Kasihan sekali kan?

Tapi, Ndes, sebenarnya yang paling kasihan itu para sopir bus ALS (Antar Lintas Sumatera). Bagaimana tidak? Ulahnya mengemudikan bus dianggap mengganggu kenyamanan pengemudi lainnya. Berikut adalah empat hal yang dilakukan sopir bus ALS membuat tidak nyaman dan bahkan membahayakan pengemudi saat melintasi jalan Pantura.

Satu. Sering Memencet Klakson yang Bikin Kaget

Klakson di kendaraan bermotor berfungsi untuk memberikan tanda (isyarat) dan peringatan. Jadi klakson ini sangat penting dan hukumnya fardhu ain. Tapi banyak pengendara khususnya motor justeru terganggu dengan klakson bus ALS. Lagi mengendarai motor sendirian. Inget mantan mau jadi manten, tiba-tiba… teeeet…teeeet…teeet…

“Hajinguk, ngaget-ngageti wong”.

Belum lagi kalo yang berkendara orang tua dan jantungan. Bahaya!

Dua. Ngebut

“Kejar tayang waktu, Bro”.

Memang jalan pantura yang lempeng menjadikan para pengendara untuk memacu kendaraan dengan cepat. Hal ini tentu sangat menakutkan!

Lebih menakutkan mana dengan terjebak nostalgia, Ndes?

Ngebut itu membahayakan: membahayakan penumpang dan pengendara lain.

Tiga. Mendahului dari Kiri

Kendaraan Pelan Gunakan Lajur Kiri!

Artinya jika memacu kendaraan dengan cepat atau saat mendahului haruslah lewat kanan. Udah ngebut, mendahului dari kiri pula. Padahal kendaraan yang didahului sudah berada dijalur kiri. Ya otomatis bannya bukan di jalan aspal, melainkan di jalan tanah atau kerikil yang tak rata. Hal tersebut membuat badan bus bergoyang kiri-kanan.

Cocote.

Jika kalian berada di dalam bus tersebut maka yang akan merasa deg-degan. Jadi, deg-degan tidak hanya saat akan bertemu mantan, Gaes.

Empat. Mengemudi dengan Pelan

Alon-alon waton kelakon.

Nah bener kui. Tapi ngawur ki mesti seng nulis. Masa pelan-pelan juga salah?

Ora ndes. Tidak jarang pengemudi, baik motor, mobil, bus, truk, merasa tidak nyaman jika ada kendaraan besar melaju dengan pelan. Terlebih jika jalannya sempit, padat, dan sedang buru-buru. Mau mendahului dari kanan tapi dari arah berlawanan padat kendaraan.

Mau mendahului dari kiri sudah tidak ada jalan. Yang ada hanya umpatan-umpatan yang berusaha disesuaikan dengan mahraj dan tajwid yang benar. Hajinguk.

Nah, kasihan kan para sopir ALS? Klakson salah, ngebut salah, mendahului dari kiri salah, mengemudikan dengan pelan juga salah. Yo lah. Yang selalu benar itu wanita, Ndes.

Sebenarnya tidak hanya sopir ALS sih, pun bagi pengemudi lainnya. Utamakan keselamatan!

Zahid Arofat : Penulis berasal dari Pati, tinggal di Semarang dan betah menjomblo.