Gentalentologi Itu Apa


Seorang warga Muntilan memahat batu dijadikan entah apa. (foto: gambangsemarang.com / edhie)

Weits…istilah apa pula ini. Ini istilah ngawur dari tiga kata dasar. Gen, talent, dan Logos. Artinya, ilmu yang mempelajari tentang bakat berdasarkan garis keturunan. Wkwkwkwk.

Gini. Saya mau cerita tentang kebiasaan di kampung saya, muntilan. Ndilalah kota ini dimanjakan dengan sungai-sungai yang membawa bebatuan andesit dari Merapi. Di daerah ini dan sekitarnya, percandian tersebar. Dengan menempatkan Borobudur sebagai pusat.

Dari berbagai thesis, pembangunan Borobudur didukung ahli-ahli pahat batu. Sejarah tak tertulis dan berdasar asumsi, muntilan adalah salah satu titik produksi aneka pernik pahat batu di jaman pembangunan Borobudur.

Karena pembangunan itu tak seperti legenda Bandung Bondowoso yang hanya semalam dan berdasar kesaktian mengutuk, maka Borobudur dan puluhan candi itu dikerjakan bertahun-tahun.

Keturunan para pemahat itulah yang kini masih melanjutkan seni pahat batu tersebut. Benarkah?

Jangan dijawab, karena saya lalu membayangkan peradaban jaman nabi Ibrahim as. Saat itu para pemahat batu menjadi musuh karena dianggap mencipta berhala. Hingga akhirnya raja Namrud menjadi musuh.

Jika peradaban ini terjadi di Muntilan, mungkin saya akan menangisi kakek moyang saya yang tinggal di Muntilan dan dikutuk memiliki ketrampilan pahat batu. Kami pasti akan jadi public enemy peradaban.

Kembali ke cerita awal.

Saat Waisak, kawan saya sekolah, Novin Novi dan Endang Es mengirim foto pelepasan lampion di Borobudur. Entah mengapa imajinasi saya langsung membawa pulang ke rumah.

Saya ingin menemui ayah dari endang, pak Doelkamid Djayaprana. Beliau adalah Pioneer dan tokoh seni pahat batu di kota saya itu. Saya pengin mendengar cerita-ceritanya yang seru.

“Ndang, aku pengin ngobrol sama bapak. Aku yakin bahwa bapak memiliki gen keturunan dengan para pemahat berbagai candi di daerah kita,” kataku suatu ketika.

Hingga kini, aku belum juga mewujudkan keinginan itu. Alasan selalu ada. Bahkan kalau perlu dicari.

Dengan pak Djayaprana, aku sangat akrab. Saat SMP aku pernah diajari memahat patung kodok, dan putranya sudah mahir membentuk patung Gupala. Ah….semoga beliau sehat!

Bagiku, memahat batu bukan sekedar ketrampilan. Meski bisa dipelajari dengan hasil yang sama, namun jika dilakukan oleh pemahat sekaliber pak Djayaprana akan ada kharisma dari hasil pahatannya.

Aku bisa membuat patung kodok dari batu. Pun nyaris semua pemahat yang ada di Muntilan. Tapi roh pahatan kami tentu sangat berbeda. Gampangnya kita sebut saja ada faktor “wih”. Sebuah faktor yang hanya bisa ditangkap dengan rasa pangrasa, bukan dengan panca indera.

Hmmm ini mau nulis apa sih?

Singkatnya, cuma pengin nulis bahwa muntilan itu sebuah kota yang dihuni para pemahat batu hebat. Dan sosok Doelkamid Djayaprana adalah sosok perintis di jaman Indonesia. Sosok yang saya yakini memiliki garis keturunan dengan para jagoan pahat batu berbagai candi di sekitar Magelang.

Udah? Nggak mutu gitu?

Ya. []

edhie prayitno ige, penulis, cerpenis asal Muntilan mukim di Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *