Hanya Penyanyi Dangdut Yang Tahu Kualitas Calon Kepala Daerah

Gaya penyanyi dangdut di panggung kampanye. (foto:gambangsemarang.com/mediadangdut.com)

Musim Durian sudah hampir selesai. Sebagai gantinya, sebentar lagi datang musim pilkada. Bahkan prosesnya sudah dimulai. Diawali dari musim sosialisasi dilanjutkan dengan musim kampanye dan puncaknya adalah musim coblosan.

Agar tak salah pilih dalam pilkada nanti, mulai sekarang berbaik-baiklah dengan kru musik Dangdut. Mulai dari manajemennya, grupnya, awak grup, hingga penyanyinya. Sebab merekalah yang tahu persis kualitas calon kepala daerah.

Sayang sekali, masyarakat yang demen melototi timeline media sosial, lebih suka menebar ikon jempol tanda suka dan komentar nyinyir. Mereka lebih percaya berita hoax dibanding mencari tahu kebenaran informasi secara rasional.

Mengapa penyanyi dangdut layak menjadi tempat bertanya?

Jelas sekali. Pertama, saat memasuki musim kampanye, mereka yang akan dikontrak habis-habisan oleh para calon. Tak peduli persyaratan yang diajukan sangat berat, atau tarif yang mendadak naik, para calon kepala daerah ini tetap akan mem-booking.

Biasanya seorang penyanyi Dangdut kampung yang biasa main organ tunggal mendapat bayaran seratus ribu tiap tampil. Angka seratus ribu itu akan bergerak naik dengan cepat begitu masuk musim kampanye.

“Wah tanggal itu saya ada job mas. Bolehlah saya cancel, tapi bayar di depan lunas!”

Kepingin kampanyenya meriah, berapapun harga yang dipasang, calon pasti akan setuju. Biasanya langsung memberi depe sebagai ikatan.

Nah, si penyanyi dangdut yang berpengalaman akan menolak depe itu. Mereka maunya dibayar cash. Sebab berdasar pengalaman, yang dikontrak panjang ikut ngalor ngidul kampanye itu, janjinya akan dibayar usai proses kampanye selesai. Iyo nek kepilih, nek ora? Modaro dewe. Gak bakal dibayar.

Itu baru untuk menilai apakah seorang kepala daerah hanya banyak janji atau nggak. Ngapusi ora. Korupsi ora. Jangan-jangan hanya janji kampanye. Njelehi to. Kebanyakan memang kemudian nggak dibayar, dengan alasan kalah. Kakekane to.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *