Ketua PKS Jateng Dipecat Jelang Pilgub, Ada Apa?

Hanya satu hari menjelang pendaftaran terakhir pemilihan gubernur Jawa Tengah, Ketua DPW PKS Jawa Tengah Kamal Fauzi dicopot dari jabatannya. Pencopotan itu tertuang dalam SK DPP PKS no 111/SKEP/DPP-PKS/1439 bertanggal 20 Desember 2017.

Tentu saja pemecatan Kamal Fauzi ini mengejutkan kader PKS di Jawa Tengah. Apalagi karena Kamal Fauzi dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah bermanuver aneh-aneh.

Hasil investigasi Gambang Semarang, sebelum dipecat, Kamal Fauzi dipanggil ke DPP PKS. Di kantor partai yang keren ini, kamal Fauzi diminta mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPW PKS Jateng.

Atas permintaan DPP, Kamal Fauzi menolak. Dasar penolakannya adalah karena ia dipilih oleh Majelis Syuro yang mendasarkan pilihannya pada Pemilu Raya yang diikuti seluruh kader inti PKS Jateng.

Susunan Struktur DPW PKS yang menunjukkan nama Kamal Fauzi hilang dari jabatan ketua dan diganti dengan Abdul Fikri Faqih. (foto: GambangSemarang.com)

“Apa kesalahan ane? Kalau ane nggak salah, ya ane nggak mau,” begitu kira-kira jawaban Kamal Fauzi.

Penolakan ini kemudian dinilai sebagai sebuah bentuk pembangkangan terhadap pimpinan. Bagaimanapun sebagai Partai dakwah, PKS pasti menganut prinsip Sami’na Wa Atho’na. Kami dengar dan kami taat.

“Lha ane kan pimpinan antum. Lha kok berani ngeyel. Itu nggak Sami’na Wa Atho’na banget lho. Mau jadi ustad jaman now yang berani membantah ya?” begitu jawaban dari DPP yang entah siapa.

Nah, atas pencopotan inilah maka spekulasi publik mengarah ke pelaksanaan pemilihan gubernur. DPP PKS rupanya galau kalau dipimpin Kamal Fauzi nanti PKS Jateng tak bisa dikendalikan. Padahal sudah ada kesepakatan nasional bahwa PKS berkoalisi dengan Gerindra dan PAN di lima propinsi.

Lalu apa kesalahan Kamal?

Gambang Semarang mendapat bisikan bahwa Kamal Fauzi memang tak bersalah. Sebab kalau ia dinyatakan bersalah, pasti sudah berada di penjara. Namun bisikan itu menyebutkan pemecatan itu merupakan hasil kesepakatan dua presiden. Yang pertama jelas Presiden PKS, yang kedua presiden ini masih misterius. Yang jelas ia tinggal di istana, nggak seperti Kamal Fauzi yang tinggal di ndeso.

Presiden misterius itu meminta agar PKS Jateng mengamankan salah satu calon Gubernur Jateng. Perkara koalisi, ah itu kan hanya masalah administratif saja. Yang penting dengan modal kursi sebagai syarat administrasi, PKS ikut memberikan dukungannya,

“Jadi nanti pas kampanye dan kerja-kerja pemenangan, sebaiknya PKS nggak usah seperti biasanya. Capek. Kalau capek dan mau pijat, nanti ketahuan ke panti pijat kan berabe. Meski pijat beneran dan nggak plus lho,” kata Presiden misterius itu kepada Presiden PKS.

Presiden PKS juga sudah memberi klarifikasi disini.

Benarkah bisikan yang diterima Gambang Semarang itu? Kita lihat saja nanti pas pelaksanaan kampanye. PKS akan mengerahkan ribuan umatnya atau nggak.

Imlekan di Semarang Biar Nggak Jomblo

barongsay menjadi pemandangan sehari-hari di pecinan Semarang, terutama menjelang imlek. (foto: gambangsemarang.com / greatindonesia)

Bentar lagi imlek ya. Selamat deh bagi yang merayakan. Mau imlekan dimana? Kalau belum punya agenda, ke Semarang aja.

Banyak kelenteng di pecinan yang siap menerima kunjungan. Kelenteng-kelenteng itu tentu dengan keistimewaan kongco (dewa) yang berbeda-beda. Meski tiap kelenteng selalu saja ada Kongco Kwan Im Poo Sat.

Baiklah. Di pecinan Semarang sendiri ada sebelas kelenteng yang keren, bersejarah, dan masih terawat. Itu baru di pecinan, belum yang di luar pecinan macam gedung Batu.

Secara singkat aja ya. Kalau ditulis semua, sampai imlek nanti gak selesai ngebahasnya. Karena semua memiliki keistimewaan.

Bagi yang ingin imlekan, silakan pilih. Kelenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur No 38, Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa di Jalan Gang Pinggir No 105-107, Kelenteng Tay Kak Sie di Jalan Gang Lombok No 62, dan Kelenteng Kong Tik Soe di Jalan Gang Lombok.

Ada juga Kelenteng Hoo Hok Bio di Jalan Gang Cilik No 7, Kelenteng Tong Pek Bio di Jalan Gang Pinggir No 70, Kelenteng Wie Hwie Kiong di Jalan Sebandaran I No 26, Kelenteng Ling Hok Bio di Jalan Gang Pinggir No 110, dan Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong Jalan Sebandaran I No 32.

Modiaar…akehe !!

Sekarang kita bahas yang menonjol dan paling banyak dikunjungi.

Hanya Penyanyi Dangdut Yang Tahu Kualitas Calon Kepala Daerah

Gaya penyanyi dangdut di panggung kampanye. (foto:gambangsemarang.com/mediadangdut.com)

Musim Durian sudah hampir selesai. Sebagai gantinya, sebentar lagi datang musim pilkada. Bahkan prosesnya sudah dimulai. Diawali dari musim sosialisasi dilanjutkan dengan musim kampanye dan puncaknya adalah musim coblosan.

Agar tak salah pilih dalam pilkada nanti, mulai sekarang berbaik-baiklah dengan kru musik Dangdut. Mulai dari manajemennya, grupnya, awak grup, hingga penyanyinya. Sebab merekalah yang tahu persis kualitas calon kepala daerah.

Sayang sekali, masyarakat yang demen melototi timeline media sosial, lebih suka menebar ikon jempol tanda suka dan komentar nyinyir. Mereka lebih percaya berita hoax dibanding mencari tahu kebenaran informasi secara rasional.

Mengapa penyanyi dangdut layak menjadi tempat bertanya?

Jelas sekali. Pertama, saat memasuki musim kampanye, mereka yang akan dikontrak habis-habisan oleh para calon. Tak peduli persyaratan yang diajukan sangat berat, atau tarif yang mendadak naik, para calon kepala daerah ini tetap akan mem-booking.

Biasanya seorang penyanyi Dangdut kampung yang biasa main organ tunggal mendapat bayaran seratus ribu tiap tampil. Angka seratus ribu itu akan bergerak naik dengan cepat begitu masuk musim kampanye.

“Wah tanggal itu saya ada job mas. Bolehlah saya cancel, tapi bayar di depan lunas!”

Kepingin kampanyenya meriah, berapapun harga yang dipasang, calon pasti akan setuju. Biasanya langsung memberi depe sebagai ikatan.

Nah, si penyanyi dangdut yang berpengalaman akan menolak depe itu. Mereka maunya dibayar cash. Sebab berdasar pengalaman, yang dikontrak panjang ikut ngalor ngidul kampanye itu, janjinya akan dibayar usai proses kampanye selesai. Iyo nek kepilih, nek ora? Modaro dewe. Gak bakal dibayar.

Itu baru untuk menilai apakah seorang kepala daerah hanya banyak janji atau nggak. Ngapusi ora. Korupsi ora. Jangan-jangan hanya janji kampanye. Njelehi to. Kebanyakan memang kemudian nggak dibayar, dengan alasan kalah. Kakekane to.

Hajinguk, Wartawan Ini Ditampar Tim Sukses Calon Gubernur Ndes

Wajah serem tapi dikampleng tim sukses cagub ndes. (foto: gambangsemarang.com / dok.bucek)

Malam ini, Kamis (29/3/2018) tengah malam, menjelang pergantian tanggal tiba-tiba gawai gambangsemarang.com berbunyi. Berisik banget.

Tentu jam-jam itu adalah jam rawan karena meupakan titik lelah. Wajar juga jika gambangsemarang.com mulai diserang ngantuk.

Gawai dibuka. Olala, ternyata sebuah pesan yang mirip pesan terakhir dari orang yang tengah meniti jembatan siratal mustaqiem. Yang njelehi bin nyebeli dan kakekane, ini kabar nggak ada lucunya blas.

Berikut kutipan lengkapnya.

“Selamat malam.

Malam ini saya dan beberapa wartawam lokal sedang mengajukan laporan polisi terkait peristiwa intimidasi dan kekerasan kepada kami.

Kronologisnya sebagai berikut :

Pertama pada pukul 16.30 WIT Calon Gubernur atas nama Said Assagaff bersama para Kepala Dinas duduk dimeja tengah rumah kopi lela sambil menikmati sajian kopi.

Para pejabat yang duduk bersama calon gubernur itu diantaranya : Sekda Maluku Hamin Bin Taher, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ismail Usehamu, Kepala Dinas Pendidikan Saleh Thio, dan staf ahli Gubernur Maluku Husen Marasabessy serta beberapa pengurus partai politik pendukung.

Seperti biasa teman-teman wartawan setelah melakukan liputan hendak nongkrong di rumah kopi lela sambil mengetik naskah berita.

Saya tiba di rumah kopi lela pukul 17.30 WIT dan duduk di meja dekat kasir. Saya dan dua rekan lainnya kemudian memesan kopi sambil merapikan posisi duduk.

Tidak lama Sam dan beberapa rekan lainnya yang baru kembali meliput kegiatan BPOM. Langsung duduk di tempat terpisah dengan kami.

Gentalentologi Itu Apa


Seorang warga Muntilan memahat batu dijadikan entah apa. (foto: gambangsemarang.com / edhie)

Weits…istilah apa pula ini. Ini istilah ngawur dari tiga kata dasar. Gen, talent, dan Logos. Artinya, ilmu yang mempelajari tentang bakat berdasarkan garis keturunan. Wkwkwkwk.

Gini. Saya mau cerita tentang kebiasaan di kampung saya, muntilan. Ndilalah kota ini dimanjakan dengan sungai-sungai yang membawa bebatuan andesit dari Merapi. Di daerah ini dan sekitarnya, percandian tersebar. Dengan menempatkan Borobudur sebagai pusat.

Dari berbagai thesis, pembangunan Borobudur didukung ahli-ahli pahat batu. Sejarah tak tertulis dan berdasar asumsi, muntilan adalah salah satu titik produksi aneka pernik pahat batu di jaman pembangunan Borobudur.

Karena pembangunan itu tak seperti legenda Bandung Bondowoso yang hanya semalam dan berdasar kesaktian mengutuk, maka Borobudur dan puluhan candi itu dikerjakan bertahun-tahun.

Keturunan para pemahat itulah yang kini masih melanjutkan seni pahat batu tersebut. Benarkah?

Jangan dijawab, karena saya lalu membayangkan peradaban jaman nabi Ibrahim as. Saat itu para pemahat batu menjadi musuh karena dianggap mencipta berhala. Hingga akhirnya raja Namrud menjadi musuh.

Jika peradaban ini terjadi di Muntilan, mungkin saya akan menangisi kakek moyang saya yang tinggal di Muntilan dan dikutuk memiliki ketrampilan pahat batu. Kami pasti akan jadi public enemy peradaban.

Kembali ke cerita awal.

Saat Waisak, kawan saya sekolah, Novin Novi dan Endang Es mengirim foto pelepasan lampion di Borobudur. Entah mengapa imajinasi saya langsung membawa pulang ke rumah.

Saya ingin menemui ayah dari endang, pak Doelkamid Djayaprana. Beliau adalah Pioneer dan tokoh seni pahat batu di kota saya itu. Saya pengin mendengar cerita-ceritanya yang seru.

“Ndang, aku pengin ngobrol sama bapak. Aku yakin bahwa bapak memiliki gen keturunan dengan para pemahat berbagai candi di daerah kita,” kataku suatu ketika.

Hingga kini, aku belum juga mewujudkan keinginan itu. Alasan selalu ada. Bahkan kalau perlu dicari.

Dengan pak Djayaprana, aku sangat akrab. Saat SMP aku pernah diajari memahat patung kodok, dan putranya sudah mahir membentuk patung Gupala. Ah….semoga beliau sehat!

Bagiku, memahat batu bukan sekedar ketrampilan. Meski bisa dipelajari dengan hasil yang sama, namun jika dilakukan oleh pemahat sekaliber pak Djayaprana akan ada kharisma dari hasil pahatannya.

Aku bisa membuat patung kodok dari batu. Pun nyaris semua pemahat yang ada di Muntilan. Tapi roh pahatan kami tentu sangat berbeda. Gampangnya kita sebut saja ada faktor “wih”. Sebuah faktor yang hanya bisa ditangkap dengan rasa pangrasa, bukan dengan panca indera.

Hmmm ini mau nulis apa sih?

Singkatnya, cuma pengin nulis bahwa muntilan itu sebuah kota yang dihuni para pemahat batu hebat. Dan sosok Doelkamid Djayaprana adalah sosok perintis di jaman Indonesia. Sosok yang saya yakini memiliki garis keturunan dengan para jagoan pahat batu berbagai candi di sekitar Magelang.

Udah? Nggak mutu gitu?

Ya. []

edhie prayitno ige, penulis, cerpenis asal Muntilan mukim di Semarang

Alasan Rasional Mengapa Kamal Fauzi Dicopot

Kamal Fauzi berjalan gontai. (foto:gambangsemarang.com/jateng.pks.id)

Ketua DPW PKS Jateng Kamal Fauzi dicopot dari jabatannya. Ia digantikan oleh Abdul Fikri Faqih, kader internal PKS yang sudah mulai nJakarta. Tentu DPP PKS memiliki alasan khusus sehingga pencopotan jabatan itu tak berani disampaikan langsung ke Kamal Fauzi.

Kamal Fauzi bahkan baru tahu dirinya dicopot ketika semangatnya bekerja berada di puncak. Ia tengah menandatangani dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam pemilihan Gubernur 2018. Kamal juga masih melayani wawancara dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPW PKS Jateng!!!

“Wah jan, tiwas ane melayani wawancara, jebule udah dipecat,” demikian Kamal Fauzi berseloroh kira-kira.

Nah, alasan apa yang paling rasional sehingga Kamal Fauzi harus dicopot? Berikut alasan-alasan rasional berdasar riset Gambang Semarang.

1.Tidak Taat Pemimpin

Dalam tradisi PKS sebagai partai dakwah, tentu akan menggunakan dalil Annadzofatu minal iman Sami’na Wa Atho’na. Kami mendengar dan kami taat. Dalam penilaian DPP PKS, Kamal Fauzi jelas dianggap tidak Sami’na Wa Atho’na. Salah satunya adalah tidak pernah setor durian ke DPP.

2. Cacat Administratif

Pemilihan Kamal Fauzi sebagai ketua DPP PKS Jawa Tengah, meskipun melalui Majelis Syuro dan Majelis yang berisi orang-orang hebat alim ulama ini mendasarkan pilihannya pada Pemilu Raya, namun tetap dinilai sebagai cacat administratif.

Cacat administratif yang utama adalah pada SK DPP PKS tentang Struktur Kepengurusan DPW PKS Jateng 2015-2020. Dalam SK yang menempatkan Kamal Fauzi sebagai ketua DPW Jateng itu, tanda tangan Presiden PKS dilakukan dengan tinta hitam dari ballpoint murahan. Nah, karena menggunakan ballpoint murahan inilah maka Presiden PKS Sohibul Iman tersadar bahwa Partai yang dipimpinnya sebenarnya Partai besar yang penandatanganan semua dokumen harus dengan pen yang branded.

Ada lima pen mahal yang dianggap recommended untuk menandatangani SK Partai politik di Indonesia. Tentu harganya mahal. Mengapa? Karena proses politik di Indonesia sangat mahal. Jadi pen yang digunakan tanda tangan merupakan simbol perilaku politik.

Secara singkat adalah Visconti Ripple, sebuah pen yang diproduksi terbatas dengan hiasan emas 18 karat dan berlian. Harganya US$ 57 ribu atau setara Rp 769,53 juta. (kurs US$1 = Rp 13.500).

Penampakan Aurora Diamante Fountain Pen seharga Rp 19,87 milyar. (foto: gambangsemarang.com/baklol.com)

Pen kedua adalah Omas Phoenix Fountain Pen Luxury Edition with Diamonds. Ini terbuat dari platinum dan emas 18 karat. Harganya US$ 60 ribu atau Rp 810,6 juta. Ketiga adalah La Modernista Diamonds Caran dAche. Dibuat di Swiss berbahan emas 18 karat dan dihias batu Ruby dan berlian. Harganya US$ 265 ribu atau Rp 3,5 milyar.

Keempat adalah Masterpiece Mont Blanc & Van Cleef & Arpels Limited Edition. Pulpen ini jelas mahal karena hasil koalisi dua merk top, yaitu Mont Blanc dan Van Cleef. Harganya US$ 730 ribu atau Rp 9,8 Milyar.

Dan pulpen terakhir yang dinilai layak untuk menandatangani SK Kepengurusan Partai di Indonesia adalah Aurora Diamante Fountain Pen. Pen ini hanya diproduksi satu buah. Dibuat dari emas 18 karat dan berlian 30 karat. Harganya US$ 1.470.600 atau Rp 19,87 milyar!

3. Menjadi Ketua dan Aktif di Partai

Alasan terakhir mengapa Kamal Fauzi dipecat dari jabatan sebagai ketua DPW PKS Jateng adalah karena Kamal Fauzi menjadi ketua. Seandainya ia hanya menjadi kader biasa, tentu DPP PKS akan sulit memecat Kamal Fauzi sebagai ketua.

Selain itu, alasan lain yang masuk akal adalah karena Kamal Fauzi aktif di partai politik. Seandainya ustad banyak senyum dan tak pernah terlihat marah ini aktif di PKK, tentu DPP PKS tak bisa memecatnya. Atau ketika Kamal Fauzi aktif di Karang Taruna, Kelompok Dasa Wisma, tentu saja DPP PKS tak punya alasan masuk akal untuk memecatnya.

Cewek vs ALS, Siapa Selalu Benar?

Dalan sepi malah alon-alon. (foto: gambangsemarang.com)

Jangan pernah sendirian jika berkendara di sepanjang jalan pantura!

Lha kenopo ik?

Jalan lempeng dan pemandangan yang gitu-gitu aja sering kali membuat siapa pun yang melintasinya cepat merasa bosan. Selain itu akan sangat terlihat seperti pendekar alias jomblo. Kasihan sekali kan?

Tapi, Ndes, sebenarnya yang paling kasihan itu para sopir bus ALS (Antar Lintas Sumatera). Bagaimana tidak? Ulahnya mengemudikan bus dianggap mengganggu kenyamanan pengemudi lainnya. Berikut adalah empat hal yang dilakukan sopir bus ALS membuat tidak nyaman dan bahkan membahayakan pengemudi saat melintasi jalan Pantura.

Satu. Sering Memencet Klakson yang Bikin Kaget

Klakson di kendaraan bermotor berfungsi untuk memberikan tanda (isyarat) dan peringatan. Jadi klakson ini sangat penting dan hukumnya fardhu ain. Tapi banyak pengendara khususnya motor justeru terganggu dengan klakson bus ALS. Lagi mengendarai motor sendirian. Inget mantan mau jadi manten, tiba-tiba… teeeet…teeeet…teeet…

“Hajinguk, ngaget-ngageti wong”.

Belum lagi kalo yang berkendara orang tua dan jantungan. Bahaya!

Dua. Ngebut

“Kejar tayang waktu, Bro”.

Memang jalan pantura yang lempeng menjadikan para pengendara untuk memacu kendaraan dengan cepat. Hal ini tentu sangat menakutkan!

Lebih menakutkan mana dengan terjebak nostalgia, Ndes?

Ngebut itu membahayakan: membahayakan penumpang dan pengendara lain.

Tiga. Mendahului dari Kiri

Kendaraan Pelan Gunakan Lajur Kiri!

Artinya jika memacu kendaraan dengan cepat atau saat mendahului haruslah lewat kanan. Udah ngebut, mendahului dari kiri pula. Padahal kendaraan yang didahului sudah berada dijalur kiri. Ya otomatis bannya bukan di jalan aspal, melainkan di jalan tanah atau kerikil yang tak rata. Hal tersebut membuat badan bus bergoyang kiri-kanan.

Cocote.

Jika kalian berada di dalam bus tersebut maka yang akan merasa deg-degan. Jadi, deg-degan tidak hanya saat akan bertemu mantan, Gaes.

Empat. Mengemudi dengan Pelan

Alon-alon waton kelakon.

Nah bener kui. Tapi ngawur ki mesti seng nulis. Masa pelan-pelan juga salah?

Ora ndes. Tidak jarang pengemudi, baik motor, mobil, bus, truk, merasa tidak nyaman jika ada kendaraan besar melaju dengan pelan. Terlebih jika jalannya sempit, padat, dan sedang buru-buru. Mau mendahului dari kanan tapi dari arah berlawanan padat kendaraan.

Mau mendahului dari kiri sudah tidak ada jalan. Yang ada hanya umpatan-umpatan yang berusaha disesuaikan dengan mahraj dan tajwid yang benar. Hajinguk.

Nah, kasihan kan para sopir ALS? Klakson salah, ngebut salah, mendahului dari kiri salah, mengemudikan dengan pelan juga salah. Yo lah. Yang selalu benar itu wanita, Ndes.

Sebenarnya tidak hanya sopir ALS sih, pun bagi pengemudi lainnya. Utamakan keselamatan!

Zahid Arofat : Penulis berasal dari Pati, tinggal di Semarang dan betah menjomblo.

Batikku16 Cafe & Homestay, Cocok Untuk Putus Cinta, Jadian dan Nugas

Makan, ngopi dulu sebelum sampaikan kata putus. (foto: gambangsemarang.com)

“Berpeluang mantan ngajak balikan di kemudian hari.”

Mahasiswa akhir yang lagi nugas sering bete dengan sinyal internet yang ndlap-ndlup. Eh giliran dapat sinyal bagus, paketan habis. Berat ndhes.

Cobalah Cafe Nembelas. Sebuah cafe di tengah kampung namun ketika berada di dalam ada harmoni tradisi, modernitas, teknologi, dan alam. Seru.

Ini adalah café baru. Dibuka bulan Februari 2018 ini sehingga saat ini masih dalam masa promo. Café ini menawarkan experience leisure, sehingga saat hendak menyatakan putus cinta, bisa jadi malah akan tambah lengket.

Perhatikan kesederhanaan mbak-mbak yang nyanting. Yakin mau putus? (foto: gambangsemarang.com)

Lokasinya di kampung Kontrak, desa Sumberejo Meteseh Tembalang. Satu kompleks dengan Sanggar Batik Semarang 16.

Selain menawarkan suasana pedesaan, di café ini juga dilengkapi dengan homestay bagi para backpacker. Murah meriah dengan kualitas mewah karena menggunakan bed yang biasa digunakan untuk hotel bintang empat.

Saat hendak menyampaikan putus cinta, cobalah pesan menu kopi yang tersedia bagi penyuka kopi. Jangan khawatir karena kopi yang tersedia cukup komplit, mulai dari Aceh, medan, Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat, Riau hingga kopi dari Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, semua ada.

Rayakan putus cintamu sambil prengas-prenges. (foto: gambangsemarang.com)

Harganya nggak semahal kalau kita berburu kopi itu di tempat aslinya. Nah, jika sudah pesan kopi dan camilan, cobalah nongkrong sambil menikmati mbak-mbak yang sedang mencanting membuat batik tulis.

Foto-foto dulu.

“Sebelum putus, kita saling foto dulu yuk. Kita juga harus berfoto berdua biar jadi kenangan,” kalimat standar ini bisa dimodifikasi jadi lebih romantis.

Dijamin ketika nanti benar-benar putus dan mantan nggak segera dapat yang baru, pasti akan ngajak balikan. Apalagi saat melihat-lihat foto kenangan sambil mengingat-ingat suasana dan kalimat-kalimat romantis.

Lokasi dan akses menuju cafe keren ini, klik disini.

Blais…Setnov Ternyata Titisan Syech Jangkung


Setelah menjalani proses penyidikan yang sangat lama dan melelahkan (selama dan semelelahkan aku menunggumu, Kasih. Cemet!) akhirnya Bang Setnov dijatuhi tuntutan  oleh jaksa 16 tahun  kurungan. Tidak hanya itu, Bang Setnov juga diharuskan membayar segepok tiga milyar rupiah atas kasus korupsi megaproyek E-Ktp yang menjeratnya.

Apakah drama Bang Setnov sudah berakhir? Eitz, tunggu dulu! Sabar, Ndes! Sosok Bang Setnov ini mengingatkanku terhadap seseorang.

Sopo ik? Pacar?

Aku memilih menjadi jomblo bermartabat, Ndes. Jadi ya “Say no to pacaran!”

Orang ini bukan orang biasa, Ndes. Belau waliyullah. Adalah Saridin atau Syeh Jangkung. Meski demikian, dulu Saridin pun pernah terjerat kasus pidana. Bukan kasus korupsi seperti yang menjerat Bang Setnov, namun Saridin terciduk oleh kasus pembunuhan terhadap kakak iparnya, Branjung.

Kisahnya bermula ketika orang tua Saridin sebelum meninggal mewariskan pohon durian kepada Saridin dan kakaknya, Sumiyem (istri Branjung). Atas kesepakatan Branjung dan Saridin, apabila buah durian jatuh di siang hari maka menjadi milik Branjung. Sebaliknya, apabila buah jatuh di malam hari, maka menjadi milik Saridin.

Sebab durian jatuh di malam hari, maka Branjung mulai iri dan kesal. Ia kemudian menyamar menjadi harimau yang kemudian mencuri durian jatuh di malam hari. Entah bagaimana proses penyamarannya menjadi harimau, namun terdapat dua versi yang berbeda yaitu dengan menggunakan kesaktian ilmunya Branjung menjelma menjadi harimau. Versi satunya lagi bahwa branjung menggunakan kostum yang menyerupai harimau.

Mengetahui ada harimau (mencuri durian miliknya) Saridin kemudian menombaknya dengan bambu runcing. Terkena tombak, harimau menjerit. Saridin curiga kemudian menghampiri dan ternyata harimau tersebut adalah kakak iparnya sendiri, Branjung.

Atas kasus tersebut, Saridin akhirnya dipenjara. Namun, karena kesaktiannya beliau bisa sesuka hati keluar dari penjara untuk pulang ke rumah menemui anak dan istrinya. Namun, akhirnya hal itu pun terendus juga sehingga Saridin dijatuhi hukuman gantung. Memang karena orang yang sakti, hukuman gantung pun tidak mempan. Ketika tali ditarik ternyata Saridin ini justeru ikut menarik talinya. Padahal jelas-jelas tali sudah melilit lehernya tapi bisa lepas juga.

Terus piye lanjutane?

Waduh pegel, Ndes. Sampe aku sugih gak rampung ki nek tak ceritakno kabeh. Mending download wae serial mp3-nya atau tonton serial videonya di youtube.

Intinya Syeh Jangkung ini sakti. Dia bisa keluar meski dipenjara, bisa lepas saat digantung, mengubah daun menjadi perhiasan dan uang, menimba air dengan keranjang, menyebrangi lautan naik dua buah durian, menghidupkan kerbau mati, dan masih banyak lagi kehebatan beliau.

Nah, saya berpesan bahwa KPK dan Polri harus membentuk tim khusus untuk menangani dan mengawasi Bang Setnov. Bisa jadi Bang Setnov ini adalah orang sakti macam Saridin atau Syeh Jangkung. Nyatanya diawal sidang penetapannya sebagai tersangka kasus pengadaan E-Ktp ia selalu bisa lolos dari jerat hukum. Nah, kan kudu ati-ati.

Dan, meskipun saat ini Bang Setnov sudah ditetapkan oleh jaksa dijatuhi kurungan 16 tahun bisa jadi dengan kehebatan ilmunya keluar-masuk penjara sesuka hatinya. Kemudian mengubah dedaunan hutan Indonesia ini menjadi perhiasan dan uang untuk membayar kerugian negara akibat korupsi yang dilakukannya. Ya macam cerita Syeh Jangkung tadi.

Hutane gundul, Ndes. Rusak.

Ya intinya seperti itu lah.

Seperti itu piye?

Kalau memang perlu dijatuhi hukuman gantung ya monggo! Kalau memang pantas atau hanya untuk sekadar menguji kebenaran bahwa Bang Setnov ini titisan Syeh Jangkung ya silakan! Yang jelas korupsi itu jelas tindakan yang tidak bermartabat. Maka, bagi para koruptor cepatlah bertobat!

Alasan Putus Cinta Paling Nggak Rasional


cie…cie…

Pacaran seringkali digunakan sebagai tahap icip-icip mencocokkan setiap pasangan sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan. Mosok iyo, Ndes?

Tidak melulu harus melalui tahap pacaran, sebagian orang memilih berta’aruf untuk mengenal calon pasangannya sebelum menikah. Sebagian lagi entah.

Sesuai dengan hakikatnya yang bertujuan untuk mencari kecocokan pasangan membuat sebagian pelakor pelaku pacacaran tetap melek. Artinya, tetap membuka mata dan hati untuk mencari pasangan lain yang menurutnya cocok dan nyaman. Ingat, hal ini terjadi hanya terjadi pada sebagian orang lho, Ndes. Tidak pada semua pasangan.

Jika dalam hubungan sudah ditandai dengan sering bertengkar, tiba-tiba sikap pasangan berubah, atau bahkan menghilang tanpa jejak ditelan bumi bisa jadi hal tersebut mengarah pada berakhirnya sebuah hubungan pacaran.

“Lo – gue end”.

Hajinguk. Sok-sokan nggo boso ?lo-gue’.

Nah, untuk mengakhiri hubungan pacaran yang baik, sopan, dan tidak menyakiti hati maka pihak yang memutusin haruslah menyertakan alasan. Cocote. Tetep wae perih ndes.

Alasan-alasan yang sering digunakan untuk mutusin pacar biasanya sangat mainstream.

Satu. Ingin fokus sekolah/kuliah.

Alasan ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang masih menyandang status siswa/mahasiswa. Sebab tidak mungkin orang karir menggunakan alasan tersebut untuk mutusin kekasihnya. Lho, ya mungkin wae to, Ndes. Mahasiswa kan banyak yang sambil bekerja juga. Sekolah ya sekolah wae ra usah pacaran! (Penulise baper mergo jaman sekolah ra tau duwe pacar). Hajinguk!

Dua. Ingin fokus dengan karir.

Kalau ini adalah alasan yang digunakan oleh orang-orang yang bergelut di dunia kerja. Petani, pedagang, buruh, politisi, penyanyi, mbuh pokoke kabeh pekerjaan. Sebagian orang justru ketika memiliki pasangan dan berniat serius melanjutkan ke jenjang pernikahan justru akan memantik semangat dalam hal bekerja. Pepatahe wong biyen “Dibalik kesuksesan seorang pria, terdapat wanita hebat”.

Tiga, Tidak ingin pacaran.

Nah, ini alasan bisa dipakai oleh siapa pun. Tapi kalau dipikir-pikir kok lucu. Lha mutusin pacar kok alasannya tidak ingin pacaran. Lha selama ini sudah menjali pacaran. Kalau memang tidak ingin pacaran ya dari awal tidak usah pacaran gitu lo. Kasihan anak orang.

Empat. Ingin sendiri.

Ini lebih lucu lagi, Ndes. Tidak masuk akal. Ingin sendiri tapi masih tinggal di rumah, masih mondar-mandir mengendarai motor boncengan tiga. Lha gimana bisa sendiri? Kalau ingin sendiri ya ke hutan atau ke goa gitu. Bertapa di sana.

Nah jika kalian diputusin pacar dengan salah satu alasan di atas, jangan mudah percaya gaes! Bisa jadi alasan itu hanyalah untaian kata untuk mengelabuhimu. Bisa jadi ia telah mengejar atau justru telah menemukan penggantimu. Bisa jadi lho ya. Belum pasti.

Tapi orang yang mutusin pacarnya dengan alasan itu lebih bermartabat daripada mutusin tanpa alasan.