Rico Marbun dan Pilgub Jateng Yang Pating Klinyit


Rico Marbun itu top, diwawancarai wartawan lho. (foto: gambangsemarang.com /markeyak)

Lembaga survey Median dengan direktur eksekutif Rico Marbun, tak terdengar suaranya di Pilgub Jateng 2018. Entah apa sebabnya, tapi lembaga survey ini selalu berbeda dengan lembaga survey lain.

Misalnya dalam Pilgub DKI, dalam survey pertama lembaga survey Polmark menempatkan pasangan Anies-Sandi di peringkat pertama elektabilitas tertinggi. Sebaliknay, Rico Marbun malah menempatkan Anies-Sandi di peringkat kedua.

Lha dalam pilgub Jateng 2018 ini, boro-boro ada perang lembaga survey. Memang terkesan adem ayem. Dan suasana adem ayem ini jelas membingungkan menyusun strategi. Model survey ala Rico Marbun yang berani menentang arus lembaga survey nggak ada. Pokoke pating klinyit lah.

Saking nglinyitnya pilgub Jateng ini, jago strategi PDIP Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul sampai nggak percaya. Sudirman Said yang disebutnya manusia cerdas, berwawasan luas mosok pake strategi ecek-ecek? Wah, ini dia. Mungkin mas Pacul perlu konsultasi dengan Rico Marbun biar nggak nganggap ecek-ecek strategi Om Dirman.

Ingat nggak waktu Pilgub DKI? Nyaris semua terlena dengan hasil survey mainstream yang menyebut bahwa isu agama tak mempan. Nah, Rico Marbun dengan Media Survey Nasional alias Median ini, justru menyebutkan bahwa ada fenomena gerakan “asal bukan Ahok”. Kenthir to? Kenthir tapi terbukti ndhes…

Begitupun ketika menjelang coblosan, nyaris semua lembaga survey menyebutkan bahwa Pilkada DKI akan berlangsung satu putaran. Lha kok Rico Marbun berani bilang bahwa elektabilitas Ahok tertinggi, disusul Anies-Sandi, dan Agus Yudhoyono terakhir. Eh, jebul bener lagi.

Masih belum cukup? Nah, Saiful Mujani dengan SMRC menyebutkan bahwa isu etnis dan agama tak berpengaruh dalam Pilgub DKI. Sedangkan Rico Marbun sebaliknya, hasil survey-nya menunjukkan bahwa ada penguatan politik identitas. Mbuh metodologi macam apa yang dia pakai, tapi hasil survey Rico Marbun selalu berbeda dengan lembaga survey lain.

Suatu ketika saat masih jadi mahasiswa, Rico Marbun pernah bilang bahwa hidupnya harus memberi arti bagi kehidupan.

“Hidup cuma sekali kok harus berarti. Jadi kalaupun beda nggak papa. Saya nggak suka pecel, sampeyan suka pecel,” kata Rico Marbun kepada gambangsemarang.com entah berapa tahun lalu saat Rico marbun masih sangat culun.

Yang paling fenomenal, menjelang putaran kedua, duet Anies-Sandi disebutkan memenangkan kontestasi Pilgub DKI oleh Rico Marbun. Ini sangat cocok dan terbukti kan?

Kembali ke Jateng. Pilgub Jateng barangkali butuh sosok yang berani bersikap antimainstream dalam menyampaikan survey macam Rico Marbun. Gunanya jelas, biar gairah pemilih juga meningkat.

“Lha kok sampeyan pengin Pilgub Jateng ramai to?” kata mas Wawan, tetangga sebelah gambangsemarang.com.

“Lha ya jelas to. Sekarang itu banyak yang nggak tahu je kalau mau ada pemilihan gubernur. Coba kalau foto saya dicetak dan dipasang di pojok lapangan, nanti kan dikira saya nyalon.”

“Apa untungnya kalau ramai?”

“Kalau masyarakat banyak yang aktif terlibat, otomatis tingkat legitimasinya kuat to mas. Dipilih wong satus karo dipilih wong sewu ki beda.”

“Lha biar bergairah gimana?”

“Ya minum jamu kuat macam Purwoceng. Eh maksud saya, ini salah satu tugas lembaga-lembaga survey. Makanya sosok seperti Rico Marbun dan Median itu dibutuhkan. Berani beda meski sendirian dan dianggap aneh.”

“Kalau perkiraannya meleset?”

“Ya nggak papa. Kan yang dirugikan calon yang kalah. Salah sendiri nyalon.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *