Tambakrejo, Sentra Kuliner Baru Bandeng Muda Urug

Dengan cinta siap menembak. Jangan lupa pelurunya dari jamban se-Kota Semarang. (foto: gambangsemarang.com / koesnan hoesie)

Jika tak ada aral melintang dan berhasil viral, Semarang mungkin akan memiliki kuliner baru. Ini jelas akan membuktikan bahwa Wali Kota Semarang sangat peduli dengan kreativitas pelaku kuliner.

Selama ini kota yang produktif melahirkan menu-menu baru adalah Bandung. Nyaris setiap bulan ada saja menu baru. Mulai Cilok, cilok digoreng (cireng), bahkan krupuk mentah yang diolah sebagaimana mie godhog yang kemudian bernama seblak.

Belum lagi tahu bulat. Semua melalui kajian ilmiah yang sangat canggih. Bahkan sampai ada hukum thermodinamika yang bisa menjelaskan mengapa tahu bulat harus digoreng dadakan.

Begini, penjelasan ilmiah yang ditulis Irvan Kartawiria berdasar hukum thermodinamika.

Tahu bulat digoreng dadakan itu urusannya sama termodinamika. Diagram fase air, suhu, dan tekanan. Pada proses penggorengan, tahu bulat dicelup ke minyak dengan suhu 150-160 C.

Pada suhu ini, air pada tahu akan berubah fase dengan cepat. Akibat ekspansi ke segala arah, ukuran tahu bulat bertambah searah diameter dan permukaannya merata menjadi bulat sempurna. Reaksi maillard di permukaan tahu bulat membuat warnanya jadi coklat, dan membentuk struktur crust yang secara fisik cukup kokoh.

Tapi karena struktur crust ini berpori, maka tekanan uap dari dalam tahu bisa keluar. Akibatnya tekanan akan berkurang setelah tahu diangkat. Maka, tahu bulat harus digoreng dalam jangka waktu sedekat mungkin dengan saat penyerahan produk ke konsumen.

Menarik bukan?

Nah, lalu apa kuliner baru Semarang ini?

Sebelumnya Semarang sudah sangat dikenal dengan oleh-oleh bernama bandeng presto. Kemudian olahan bandeng itu dikembangkan sehingga menghasilkan bandeng cabut duri, otak-otak bandeng, dan segala macam perbandengan.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang sudah jadi selebgram rupanya masih gelisah. Maka ketika jalan-jalan di Gunungpati dan melihat teknik warga mbakar telo dengan dikubur dalam abu panas, muncul idenya.

“Eureka!” begitu kira-kira Hendi berteriak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *