Darmanto Jatman, Catatan Prie GS


Budayawan mbeling Emha Ainun Nadjib dan Penyair mbeling Darmanto Jatman suatu ketika. (foto:gambangsemarang.com/caknun.com)

Darmanto Jatman, penyair, psikolog, pemikir, budayawan, hari ini, setelah berjuang dari sakitnya yang panjang berpulang. Selamat jalan Mas Dar. Semoga dilapangkan jalan.

Saat itu, ketika You Tube belum ditemukan, ketika sosial media belum menggila seperti sekarang, ketika orang terkenal hanya berarti mereka yang tinggal di pusat, dan pusat itu hanya berarti Jakarta, kami yang tinggal di Semarang sering berkecil hati. Untung saat itu ada Darmanto. Jika ada orang terkenal dari Semarang yang dianggap oleh pusat rasanya itu “hanya” Darmanto.

Saat saya wawancara dengan Umar Kayam, ia bertanya tentang kabar Darmanto. Saat saya mewawancarai Bagong Kussudiardja, ia bertanya tentang Darmanto. Saat saya mewawancarai Romo Mangun Wijaya, ia menyebut Darmanto. Menjadi warga Semarang saat itu, menjadi besar hati karena Darmanto. Tentu di kota ini ada Nh Dini, Jaya Suprana, Kelly Puspita dan Narto Sabdo. Tapi Darmanto, dengan gayanya yang flamboyan dan jangan lupa… ia tampan, meletakkan posisinya secara iconic. Ia menjadi salah satu pembobot penting kota ini.

Tetapi di luar sosoknya yang ningrat dan priyayi, di luar gayanya sebagai pemikir yang selebriti, Darmano adalah orang Jawa asli dalam arti: ia pribadi yang ketat pada etik dan arstistik. Ia menghitung dengan rapi “rasaning liyan” (feeling of other). Ia peraga yang baik kredo kejiwaan Jawa versi RM Sosro Kartono dan Ki Ageng Suryo Mentaram. Kepada Umar Kayam yang dihormatinya sebagai pemikir Darmanto menyebut hubungannya sebagai “asih ajrih”, sebagai cinta dan takut. Begitu juga dengan WS Rendra dan Romo Mangun. Kepada siapa saja yang lebih muda Darmanto memperagakan apan yang disebut “ina tresna”, meledek tetapi sesungguhnya mencintai. Ia terkenal tukang ledek. Tetapi siapa yang sudah diledeknya ia sudah dicintai. Inilah mengapai ledekannya dikangeni.

Kepada kekuasaan dan birokrasi Darmanto sejauh yang ia bisa terus memelihara apa yang disebut “sepi pamrih tebih ajrih” yakni ketika pamrih menyepi ketakutan akan menepi. Itulah mengapa walau ia berada dalam birokrasi sikapnya telatif merdeka untuk mengatakan apa saja walau tentu dengan gayanya yang sangat Jawa: terbuka tapi tak langsung. Keras tapi lucu, urakan tapi priyayi. Ia “kebat tapi tak kliwat” kencang tapi tak menyalip dan tajam tapi tak melukai.

Sugeng tindak…

tulisan ini diambil dari status Facebook Prie GS, seorang budayawan, kartunis, seniman dan sederet atribut lain.

What's Your Reaction?

Mewek Mewek
0
Mewek
njelehi njelehi
0
njelehi
Hajinguk Hajinguk
0
Hajinguk
Njengkelke Njengkelke
0
Njengkelke
apik boss apik boss
0
apik boss
Ngekek Ngekek
0
Ngekek
Aseek Aseek
0
Aseek
Kemaki Kemaki
0
Kemaki
Kakekane Kakekane
0
Kakekane

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format