Perahu Kertas dan Rindu Kamu


Jalan menuju ke Sawangan di kaki Gunung Merapi

Gawaiku bergetar. Tak ada suara. Sebuah pesan masuk.

Mataku menatap riuh, sebuah foto perahu kertas terapung di sebuah sungai. Ia seperti terjebak dan tak bisa bergerak. Tak bisa melaju karena hadangan batu cekung membuat aliran sungai hanya berputar.

Sungai? Ah, tidak. Lebih tepatnya sebuah selokan.

Perahu kertas itu dibuat dari sebuah sobekan kertas koran. Sebuah kertas yang berisi aneka teks dan untuk menuliskan teks itu butuh pengejaran lama. Entah pejabat, entah maling, entah artis, atau hanya gelandangan yang mati konyol karena kelaparan.

Aku masih memperhatikan foto di layar gawaiku. Tentu sambil bersyukur hujan di luar tidak begitu deras, cukup untuk menyejukkan saja.

“Bagus ya fotonya,” aku menjawab pesan itu.

“Kamu tahu maksudku? Maksud perahu kertas yang tersangkut di selokan? Kenapa aku tak mengirim foto bunga matahari kesukaanmu atau anggrek kesukaanku?” balasanku berbalas.

Lama aku diam. Mataku berpindah memandang luar jendela. Ada jemuran tetangga yang lupa diangkat. Rupanya pemiliknya sedang ke luar kota. Tapi sudah terlalu deras dan terlalu basah untuk aku angkat.

“Perahu kertas itu seperti seorang anak yang merantau. Mencari penghidupan lepas dari orang tuanya,” pesan berlanjut.

Aku memandang foto profil si pengirim pesan. Manis. Matanya seperti menatapku dengan teliti. Dan rambutnya? Olala…tak pernah berubah potongan rambutnya sejak aku mengenalnya berpuluh tahun lalu.

“Mungkinkah perahu kertas itu rindu pulang?” kujawab asal saja.

“Setiap kepergian pasti rindu pulang. Setiap perpisahan pasti merindu perjumpaan,” jawaban kali ini ditulis dengan huruf tebal.

*****

Beberapa hari setelah percakapan dengan perangkat pesan instan itu, aku sudah berada di jalan raya beraspal bagus. Menghubugkan provinsi Jawa Tengah dengan provinsi DIY melalui jalur barat.

Di sepanjang jalan, kanan kiri sekarang sudah ramai rumah-rumah warga. Hijau dedaunan masih terjaga, dan hamparan sawah yang makin menciut juga masih ada.

“Jalur ini sudah berapa kali kita lewati?” tanyaku.

“Entahlah. Kamu bosan?” kata suara di sebelahku.

Aku diam. Aku hanya ingat sebuah foto perahu kertas yang ia kirimkan tempo hari.

“Saat aku kecil, aku bersekolah tak pernah serius. Buku tulis yang dibelikan simbok dengan pengorbanan keringat siang malam, selalu saja aku sobek, aku jadikan perahu kertas,” aku bercerita.

“Teruskan. Aku mendengarkan.”

“Perahu-perahu kertas buatanku selalu rapuh. Tak seperti buatan teman-temanku. Tiap selesai perahu itu aku hanyutkan di selokan yang melewati sebelah rumah. Aku hanyutkan ia jauh di hulu, kemudian aku tunggu di samping rumah.”

“Biar kutebak. Dan perahu-perahu kertasmu itu tak pernah sampai ke rumahmu karena tersangkut kan?”

Aku diam. Tersenyum. Tebakannya benar.

“Simbok tahu aku tak pernah memanfaatkan buku tulis pemberiannya untuk belajar. Akhirnya aku diberi potongan-potongan koran bekas. Simbok memintaku memanfaatkan koran bekas itu jika aku ingin bikin perahu kertas.”

Sosok perempuan di sampingku dengan belahan rambut pinggir dan poni pendek menutup jidatnya yang lebar ini masih diam. Sambil menyetir, kulirik ia, olala rupanya ia tengah memperhatikanku. Seperti menunggu kelanjutan kisahku.

“Aku ingat koran pertama yang aku buat jadi perahu kertas isinya berita tentang orang yang ditangkap karena dituduh korupsi. Entah benar entah tidak aku tak peduli. Tapi di sebaliknya, ternyata tulisan sebuah puisi. Aku lupa penulisnya.”

“Halah, mesti romantis.”

“Nggak. Puisinya biasa saja, namun isinya tentang kerinduan seorang manusia. Entah kepada apa. Rindu kepada Tuhannya sehingga ingin mati, atau rindu kepada kekasihnya yang terpisah aku tak tahu. Aku masih sangat kecil ketika itu,” jawabku.

“Mengapa kau mendadak pulang? Ingin menemuiku yang sudah bersuami ini, atau ingin mengenang masa remaja kita? Ataukah kau pulang karena memang ingin ke rumahmu?” berondongan kalimat interogasi ini meluncur mulus dari bibir seseorang di sebelahku ini.

Ia bertanya datar saja, tak menunjukkan kemarahan, ketersinggungan, kerinduan, atau bahkan kejengkelan. Pertanyaan yang wajar dan biasa.

“Entahlah. Yang pasti aku pulang karena ingin pulang. Jika bisa bertemu dan jalan denganmu kali ini, anggap saja ini sebuah bonus,” jawabku.

“Sebaiknya kau sering pulang. Menengok makam bapak dan simbokmu. Juga kau rajut lagi ingatan dan kenangan masa kecilmu di tempat yang pernah membesarkanmu. Di rumahmu masih ada kamarmu kan?”

Aku diam. Tak hendak menjelaskan. Ia cukup tahu bahwa aku tak pernah benar-benar punya kamar. Aku bisa tidur di manapun di rumah bapak dan simbok. Pakaian dan barang milikku bisa aku taruh dimanapun.

“Oh maaf. Aku ingat kalau kau tak punya kamar.”

“Eh ya, mau kemana kita?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Mengapa kusarankan kau sering pulang? Karena ada seorang perempuan yang sudah jatuh cinta padamu, jauh sebelum kita saling berkenalan. Aku ingin kau peduli,” katanya.

Ia tak merespon pengalihan topik yang aku umpankan. Ia terlihat fokus. Tiba-tiba tangannya menumpang diatas tangan kiriku yang memegang tuas persneling.

“Kita makan ikan bakar yuk,” ajakku memecah keheningan.

Ada damai dan nyaman berdampingan dengannya. Ia pun kelihatannya ikut menikmati suasana ini.

“Iya. Tapi baiknya kau telepon suamiku dulu. Sampaikan kemana kita pergi.”

Luar biasa. Ia sangat hormat dengan suaminya. Apapun kondisinya saat ini, ia tetap menyetia dengan pilihannya saat itu. Kekagumanku makin menjadi.

Pesanan gurameh bakar sudah ada di meja. Lalapan dan ambel pedas kesukaannya juga sudah ada.

“Anak-anak dan suamimu dipesankan sekalian. Kasihan mereka menunggu ibunya yang manis diculik. Hahaha,” aku menggoda.

Dia tersenyum. Antara kami memang biasa saling menggoda. Meskipun sesungguhnya aku masih memendam rasa yang entah, rasa yang tak pernah kesampaian karena ia memilih suaminya sekarang. Namun antar kami sudah menjadi seperti keluarga.

“Eh ya, kau bilang ada perempuan yang jatuh cinta. Siapa dia?”

Selarik senyum tipis menggurat. Tangan kanannya menyibakkan poni, memamerkan jidat nonongnya.

“Ibumu. Simbokmu adalah perempuan yang jatuh cinta pertama padamu. Bahkan sebelum kau lahir, ia sudah jatuh cinta dan sangat merindukanmu. Maka, pahamilah itu.”

Aku mengerti arah pembicaraannya.

“Aku memang sudah menjadwalkan, nanti bersamaan semakin membesarnya anakku, waktuku akan semakin banyak. Semoga bisa rutin pulang.”

*****

Janji kepulanganku kali ini ternyata tak seperti yang kubayangkan. Selalu saja ada hal yang membuatku menunda-nunda. Entah pekerjaan entah menipisnya rupiah di kantongku.

Dan dalam hujan seperti kali ini, aku tiba-tiba teringat sebuah foto perahu kertas yang pernah dia kirimkan. Aku menjadi seperti perahu kertas dalam jebakan pusaran air di batu cekung itu. Dilepas dan tak pernah bisa sampai tujuan.

Tujuan? Kemana?

Iya, perahu kertas yang di masa kecilku aku lepas di selokan sejatinya tak punya tujuan. Ia akan mengikuti arus yang kebetulan alirannya lewat samping rumah. Ia tak pernah benar-benar punya tujuan.

Kepergianku dari kampung dikaki gunung Merapi, menyusuri tepian Progo dan kini terdampar di Semarang inipun sejatinya juga tak pernah memiliki tujuan.

Kerja? Belajar? Apa muara dari semuanya jika hakekatnya adalah menunggu kematian?

Getar di gawaiku seakan menyadarkanku.

“Sore. Sudah maem belum?”

sebuah pertanyaan standar, namun ini kembali membongkar kekuatan memoryku.

Dan hari-hariku lebih banyak menunggu pesan masuk darinya.

“Aku kangen. Aku pengin pulang.” []

 

edhie prayitno ige

lahir di Muntilan, tinggal di Semarang

tetangganya Pak Prapto

 

 

What's Your Reaction?

Mewek Mewek
1
Mewek
njelehi njelehi
0
njelehi
Hajinguk Hajinguk
0
Hajinguk
Njengkelke Njengkelke
0
Njengkelke
apik boss apik boss
4
apik boss
Ngekek Ngekek
0
Ngekek
Aseek Aseek
3
Aseek
Kemaki Kemaki
1
Kemaki
Kakekane Kakekane
0
Kakekane

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format